Koalisi Rakyat Bantu Rakyat Dirikan Sekolah Darurat di Aceh Tamiang Pascabanjir
Aceh Tamiang, NARASIMEDIA.NET – Koalisi Rakyat Bantu Rakyat mendirikan Sekolah Darurat di Desa Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, sebagai bagian dari upaya pemulihan wilayah terdampak banjir Sumatera 2025. Program tersebut berlangsung sejak 2 Januari hingga 17 Februari 2026.
Pendirian sekolah darurat dilakukan setelah tim melakukan asesmen lapangan pada akhir Desember 2025. Hasil peninjauan menunjukkan sektor pendidikan menjadi salah satu aspek yang terdampak signifikan akibat banjir, menyusul terendamnya sejumlah fasilitas sekolah di wilayah tersebut.
Koordinator Umum Koalisi Rakyat Bantu Rakyat, Jauhari Tantowi, mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya melalui distribusi bantuan logistik dan perbaikan fisik, tetapi juga harus menyentuh kebutuhan pendidikan anak-anak.
Baca Juga : Pemprov NTB Bantah Narasi Penelantaran WN Malaysia di Lombok
“Setelah dua bulan pascabanjir, kami menilai pemulihan perlu dimulai dari pendidikan. Anak-anak juga menjadi korban terdampak. Banyak sekolah terendam, sehingga diperlukan kegiatan edukatif agar proses belajar tetap berjalan,” ujar Jauhari.
Sebagai tindak lanjut asesmen awal, tim kembali melakukan peninjauan lanjutan di Desa Durian melalui observasi lapangan, diskusi dengan masyarakat dan perangkat desa, serta koordinasi dengan dinas pendidikan setempat. Uji coba kegiatan sekolah darurat juga dilakukan selama dua hari sebelum program berjalan penuh.
Sekolah darurat tersebut menyasar anak-anak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tercatat sekitar 30 hingga 50 anak mengikuti kegiatan secara aktif selama program berlangsung.
Baca Juga : Sengkarut ASN Siluman, Selisih Rp17 Miliar Picu Kecurigaan Korupsi
Kegiatan sekolah darurat dirancang dalam tiga agenda utama. Pertama, kegiatan belajar mengajar meliputi membaca, menulis, berhitung, serta materi dasar yang disesuaikan dengan jenjang usia. Kedua, pemulihan psikologis melalui permainan edukatif, storytelling, dan aktivitas kelompok guna mengurangi trauma dan kecemasan akibat bencana. Ketiga, kegiatan keagamaan seperti mengaji dan doa bersama.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara interaktif untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak.
Koordinator Pembangunan Sekolah Darurat, Muhammad Syahyan, berharap program tersebut dapat memberi dampak positif bagi masyarakat terdampak banjir.
Baca Juga : Eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Terancam Bui Seumur Hidup
“Kami berharap kehadiran sekolah darurat ini dapat membantu memulihkan semangat anak-anak dan masyarakat. Meski banyak yang terdampak, kami ingin memastikan proses belajar tidak terhenti dan harapan tetap terjaga,” kata Syahyan.
Ia juga mengajak berbagai pihak untuk berkontribusi dalam mendukung pemulihan pascabencana, khususnya melalui sektor pendidikan. Menurutnya, kolaborasi sosial menjadi kunci dalam membangkitkan kembali semangat masyarakat yang terdampak banjir di Sumatera.
Baca Juga : Dugaan ASN Siluman Menguat, Data Rekap RSUD NTB Terindikasi Rekayasa
Program Sekolah Darurat tersebut menjadi salah satu inisiatif berbasis komunitas dalam mendukung pemulihan jangka pendek, sembari menunggu proses rehabilitasi dan perbaikan fasilitas pendidikan permanen oleh pemerintah setempat. (red)

