HEADLINENTBTERKINI

Gas Subsidi Langka di KSB, Pemerhati Soroti Kinerja Pemda KSB

Sumbawa Barat, NARASIMEDIA.NET – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau “gas Melon” kembali terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Kondisi ini memicu tanya dari pemerhati kebijakan publik, Yuni Bourhany, yang menilai situasi tersebut sebagai ironi di tengah status KSB sebagai salah satu daerah penghasil tambang emas terbesar di Indonesia.

“Ini memang ironi. KSB, kabupaten yang memiliki tambang emas terbesar kedua, tapi warga masih berjuang untuk mendapatkan gas Melon. Ini bukan hanya soal kekurangan gas, tapi juga indikator bahwa pemimpin gagal menurunkan angka kemiskinan,” ujar Yuni dalam keterangannya, Selasa (18/2).

Baca Juga : Koalisi Rakyat Bantu Rakyat Dirikan Sekolah Darurat di Aceh Tamiang Pascabanjir

Sebagaimana diketahui, KSB merupakan lokasi operasional tambang emas dan tembaga kelas dunia milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Aktivitas pertambangan tersebut selama ini digadang-gadang menjadi tulang punggung ekonomi daerah serta sumber pendapatan signifikan bagi pemerintah daerah.

Namun, menurut Yuni, melimpahnya sumber daya alam belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Ia menilai kelangkaan gas bersubsidi menjadi indikator lemahnya tata kelola dan kebijakan distribusi kebutuhan pokok.

“KSB kaya akan sumber daya alam, tapi kemiskinan masih menghantui warga. Ini seperti memiliki emas, tapi tidak bisa makan. Pemimpin seharusnya bisa mengelola sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan warga, bukan malah membuat mereka semakin tertekan,” tegasnya.

Baca Juga : Sengkarut ASN Siluman, Selisih Rp17 Miliar Picu Kecurigaan Korupsi

Gas elpiji 3 kilogram merupakan komoditas bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha mikro. Di lapangan, sejumlah warga mengeluhkan sulitnya memperoleh gas Melon dalam beberapa pekan terakhir. Mereka terpaksa mencari hingga ke luar kecamatan atau membeli dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET).

Yuni juga menyinggung program Kartu KSB Maju yang dinilai belum menjawab persoalan mendasar masyarakat. Ia meminta Bupati KSB, Amar Nurmansyah, untuk memprioritaskan kebutuhan mendesak warga dibandingkan program yang bersifat simbolik.

“Berhenti menjadikan kartu-kartu KSB Maju sebagai pengantar tidur, sementara kebutuhan yang lebih urgen tidak menjadi prioritas. Ini bukan maju, malah warga nyungsep mencari gas Melon,” ujarnya.

Menurutnya, fakta bahwa mayoritas masyarakat masih bergantung pada gas Melon menunjukkan daya beli warga belum cukup kuat untuk beralih ke elpiji non-subsidi seperti gas biru 12 kilogram maupun varian lainnya. “Artinya apa jika masyarakat lebih banyak mencari gas Melon daripada gas non-subsidi? Itu menunjukkan tingkat kesejahteraan belum membaik,” katanya.

Baca Juga : Dugaan ASN Siluman Menguat, Data Rekap RSUD NTB Terindikasi Rekayasa

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat terkait penyebab kelangkaan dan langkah konkret yang akan diambil untuk menstabilkan distribusi gas bersubsidi di wilayah tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *