HEADLINENTBTERKINI

Sulit Kerja di Daerah, Perempuan Sumbawa Besar Terjebak Eksploitasi di Timur Tengah

Sumbawa Besar, NTB, NARASIMEDIA.NET – Keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah kembali memakan korban. Seorang perempuan asal Sumbawa Besar, Eka Ernawati, mengaku mengalami eksploitasi dan kekerasan selama bekerja sebagai pekerja migran di Arab Saudi, setelah berangkat melalui perusahaan penyalur yang mengklaim diri sebagai agen resmi.

Eka menuturkan, keputusannya berangkat ke luar negeri tidak terlepas dari sulitnya memperoleh pekerjaan layak di daerah asal. Ia diberangkatkan oleh seorang perekrut bernama Markos dan Santi melalui PT Duta Banteng Mandiri, dengan janji bekerja sebagai cleaning service  bergaji 1.500 riyal Saudi.

Baca Juga : Janji Kerja Berujung Eksploitasi, Perempuan KSB Jadi Korban di Bali

“Sejak awal dijanjikan bukan sebagai ART. Kami bahkan diarahkan untuk menyampaikan hal itu saat seleksi di Disnaker,” ujar Eka dalam kesaksiannya.

Namun, sejak proses pra-keberangkatan, Eka mengaku telah diarahkan untuk memberikan keterangan tidak sesuai fakta. Saat berada di penampungan Jakarta, ia dan calon pekerja lain diminta mengaku sebagai cleaning service dengan gaji lebih tinggi, meski realitas pekerjaan yang menanti berbeda.

Situasi semakin mencurigakan ketika sebuah LSM mendatangi penampungan. Eka mengaku diminta pihak perusahaan untuk berbohong dan tidak membuka informasi. “Kami disuruh diam. Katanya jangan bicara apa pun,” katanya.

Baca Juga : PT AWB Diduga Rugikan Negara Puluhan Miliar, Nunggak PNBP hingga Dana Reboisasi

Setibanya di Arab Saudi, Eka ditempatkan di rumah majikan dan langsung bekerja dengan jam kerja panjang, mulai sore hingga dini hari, lalu berlanjut sejak pagi hingga malam. Di sanalah, ia mengaku mengalami kekerasan fisik dari majikan perempuan dan ibu majikannya.

“Saya dijambak, dicakar, dipukul dari belakang. Alasannya cemburu, padahal saya hanya bekerja,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Eka menyebut dirinya tidak diberi makan layak selama bekerja. Ia hanya mendapat dua potong roti dan air dalam sehari. Bahkan, pada satu kesempatan, ia mengaku dijemur di luar rumah selama satu hari penuh tanpa makanan dan tempat duduk.

Upaya melapor ke sponsor dan pihak perusahaan, menurut Eka, justru berujung pada intimidasi dan cercaan. Hingga akhirnya, dengan bantuan kerabat, ia berhasil keluar dari rumah majikan dan kembali ke pihak syarikat. Namun, alih-alih dipulangkan, ia justru dikurung selama sepekan bersama pekerja lain yang sakit.

Eka dan beberapa pekerja sempat mencoba melarikan diri ke KBRI, namun gagal karena kantor tutup. Mereka kemudian kembali dan kembali mengalami penahanan. Hingga kini, Eka mengaku belum dipulangkan meski telah bekerja lebih dari enam bulan.

Ironisnya, pihak perusahaan dan sponsor justru menuntut Eka membayar Rp40 juta sebagai ganti rugi. “Kalau saya punya uang sebanyak itu, saya tidak mungkin jadi TKW,” katanya.

Kasus yang dialami Eka menambah daftar panjang persoalan pekerja migran asal NTB, sekaligus menyoroti minimnya lapangan kerja di daerah yang mendorong warga mengambil risiko bekerja ke luar negeri melalui jalur rentan.

Baca Juga : Ruang Hidup Lokal Kian Sempit, Puluhan Ribu Hektare Sumbawa dalam Konsesi AMNT

Eka berharap pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri dan BP2MI segera turun tangan membantu proses pemulangannya. “Saya baru melahirkan dan sedang sakit. Saya mohon dipulangkan,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, media telah berupaya mengonfirmasi kepada Bupati Sumbawa Besar. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *