Eks Pekerja Tambang Nilai Pengelolaan Smelter PT AMNT Janggal, Bandingkan dengan Praktik K3LH di Tambang Kalimantan
Foto : Permukiman warga Desa Maluk berbatasan langsung dengan kawasan smelter PT AMNT, yang pada titik tertentu hanya dipisahkan oleh jalan dengan lebar sekitar empat meter.
MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Keluhan warga terhadap operasional smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Desa Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, mendapat sorotan dari seorang mantan pekerja industri pertambangan yang pernah bertugas di salah satu perusahaan tambang di Kalimantan. Menurutnya, berbagai persoalan yang dilaporkan warga, mulai dari kedekatan smelter dengan permukiman hingga minimnya sosialisasi, merupakan kondisi yang dinilainya janggal dan berbeda dengan praktik pengelolaan pertambangan yang pernah diterapkan di perusahaan tempat ia bekerja.
Ia mengatakan, dalam praktik pertambangan yang dijalankan perusahaan sebelumnya, aspek keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3LH) menjadi prioritas utama. Salah satunya melalui penetapan zona penyangga antara area operasional dengan permukiman warga, keterbukaan informasi kepada masyarakat, serta pelibatan warga dalam sosialisasi sebelum kegiatan operasional berlangsung.
“Yang saya baca dari pemberitaan itu terlihat janggal. Pengalaman saya bekerja di tambang Kalimantan berbeda. Perusahaan sangat mengutamakan safety first, transparansi, dan pelibatan masyarakat. Kalau ada aktivitas yang berpotensi berdampak, masyarakat harus mengetahui mitigasinya,” ujarnya.
Baca Juga : Warga Lingkar AMNT Keluhkan Dampak Smelter Yang Hampir Tak Berjarak Dengan Permukiman
Ia juga menilai perluasan kawasan industri yang menyebabkan jarak fasilitas pertambangan semakin dekat dengan permukiman semestinya menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko gangguan lingkungan maupun sosial apabila tidak diimbangi pengelolaan yang memadai.
“Kalau masyarakat lebih dulu tinggal di sana, lalu ekspansi membuat jaraknya semakin dekat dengan smelter, itu seharusnya menjadi bahan evaluasi. Jangan sampai masyarakat menjadi pihak yang paling terdampak,” katanya.

