EKONOMI DAN BISNISNTBTERKINI

NTB Tumbuh 3,22 Persen, Ekonomi Masih Bertumpu pada Sektor Rentan

Mataram, NARASIMEDIA.NET – Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2025 tercatat sebesar 3,22 persen atau masih tertinggal 1,9 poin dari rata-rata nasional yang mencapai 5,11 persen. Kondisi ini dipengaruhi dominasi sektor pertambangan yang berkontribusi sekitar 15–20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB.

berdasarkan rekam PDRB tersebut menunjukkan struktur ekonomi NTB masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif yang bersifat volatil dan padat modal, namun relatif rendah dalam penyerapan tenaga kerja. Fluktuasi produksi tambang turut memicu anomali lonjakan pertumbuhan triwulanan hingga 12,49 persen, yang dinilai lebih disebabkan faktor normalisasi produksi komoditas tambang dibanding penguatan ekonomi riil.

Baca Juga : Mahasiswa Desak Kejati NTB Selidiki Sumur Bor Ilegal di Gili Trawangan

Ketergantungan pada sektor pertambangan juga berdampak pada struktur fiskal daerah. Dana Bagi Hasil (DBH) dari sektor tambang menyumbang sekitar 0,8 triliun rupiah atau sekitar 33 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun, potensi kehilangan DBH diperkirakan dapat memicu ancaman defisit fiskal sebesar 10–15 persen APBD, yang berisiko pada pemangkasan belanja modal dan infrastruktur daerah.

Selain itu, ketergantungan tinggi pada komoditas tambang memunculkan risiko “Dutch Disease” dan fenomena boom-bust, yakni kondisi ketika sektor unggulan melemahkan sektor lain dan menciptakan kesenjangan sosial yang lebih tinggi.

Baca Juga : Kasus Narkoba Bima Melebar, Polda NTB Selidiki Dugaan TPPU

Secara struktural, NTB dinilai menghadapi tantangan kesenjangan pertumbuhan. Dengan struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor padat modal, kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja menjadi terbatas. Hal ini berimplikasi pada perlambatan transformasi ekonomi jangka panjang.

Mengacu pada masalah tersebut, diversifikasi ekonomi berbasis agroindustri dengan mengalihkan fokus ke pengolahan hilir produk pertanian yang lebih padat karya. Selain itu, penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) non-ekstraktif melalui reformasi fiskal dinilai penting untuk meningkatkan kemandirian daerah tanpa bergantung pada komoditas global.

Baca Juga : Pengamat Soroti Kekeliruan Hitung dan Prioritas dalam Anggaran Rp14 Miliar Sewa Mobil Listrik Pemprov NTB

berdasarkan potensi geografis cultural, Optimalisasi sektor pariwisata berkelanjutan juga strategi potensial alternatif untuk meningkatkan kontribusi PAD, yang selama ini masih terbatas pada pajak hotel dan restoran.

Transformasi struktural dinilai menjadi kunci agar NTB dapat keluar dari bayang-bayang sektor ekstraktif, menjaga stabilitas fiskal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

REDAKSI NARASIMEDIA.NET

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *