HEADLINENTBTERKINI

Krisis Stok Darah di RS, NTB Care Soroti Lemahnya Koneksi Informasi Antar-UTD

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Persoalan ketersediaan stok darah di rumah sakit di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menjadi perhatian. Kebutuhan darah pasien belum selalu seimbang dengan ketersediaan stok di Palang Merah Indonesia (PMI) maupun Unit Transfusi Darah (UTD) rumah sakit.

Kondisi tersebut dinilai dapat menyulitkan keluarga pasien, terutama ketika kebutuhan darah muncul dalam situasi darurat. Keluarga pasien masih harus mencari pendonor atau menghubungi sejumlah pihak untuk mengetahui ketersediaan darah yang dibutuhkan.

Direktur NTB Care, Yuni Bourhany, menilai persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemauan masyarakat untuk mendonorkan darah. Menurut dia, persoalan juga berada pada sistem informasi dan koneksi distribusi antar-UTD yang belum terhubung dengan baik.

“Persoalan ini bukan karena kurangnya niat masyarakat untuk donor, tapi karena sistemnya yang belum terkoneksi dengan baik,” kata Yuni.

NTB Care mendorong adanya koneksi informasi yang lebih cepat antara rumah sakit, PMI dan UTD. Dengan sistem tersebut, ketika stok darah di salah satu rumah sakit kosong, informasi mengenai ketersediaan stok di fasilitas lain dapat diketahui dengan cepat.

Yuni juga mendorong Dinas Kesehatan NTB mengintegrasikan data stok darah dalam satu sistem yang dapat dipantau secara real-time oleh dokter, petugas, maupun keluarga pasien.

Menurut dia, informasi mengenai jumlah stok darah berdasarkan golongan, seperti A, B, AB dan O, idealnya dapat terlihat dalam satu sistem yang mencakup PMI, UTD RSUP dan UTD RSUD di NTB.

“Kalau stok di RS A kosong, harus tahu dalam hitungan menit stok ada di mana,” ujarnya.

Selain integrasi informasi, NTB Care mendorong langkah jangka pendek berupa penguatan kegiatan donor darah secara aktif melalui PMI dan UTD rumah sakit. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menyasar kampus, masjid, kantor pemerintah dan komunitas.

Kemitraan dengan TNI/Polri, ASN, BUMN/BUMD, organisasi pemuda hingga komunitas juga dinilai perlu diperkuat untuk menjaga ketersediaan pendonor.

NTB Care turut meminta agar mekanisme donor pengganti ditata secara lebih mudah bagi keluarga pasien yang sedang menghadapi kondisi darurat.

Di sisi lain, masyarakat sebenarnya telah dapat memantau informasi stok darah melalui portal resmi PMI pada laman Ayodonor. Namun, menurut NTB Care, informasi tersebut belum terintegrasi penuh dengan data UTD di RSUP dan RSUD se-NTB serta belum banyak diketahui masyarakat.

Karena itu, NTB Care mendorong pemerintah daerah tidak hanya membangun sistem informasi terintegrasi, tetapi juga memperluas sosialisasi kanal informasi stok darah yang telah tersedia.

“Darah adalah soal nyawa. Tidak boleh ada lagi cerita pasien kritis yang tidak tertolong hanya karena informasi stok darah yang tidak jelas,” kata Yuni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *