Ketika Citra Visual Tak Lagi Mencerminkan Realitas Faktual Masyarakat Sumbawa Barat
Foto : Aksi Demonstrasi Masyarakat KSB di Depan Gabe PT AMNT.
SUMBAWA BARAT, NARASIMEDIA.NET – Pemerintahan modern hidup di era visual. Keberhasilan semakin sering dipresentasikan melalui infografis, video pendek, slogan pembangunan, hingga deretan angka statistik yang tampak meyakinkan. Di ruang digital, persepsi sering kali bergerak lebih cepat daripada kenyataan. Apa yang terlihat akhirnya dianggap sebagai apa yang benar-benar terjadi.
Fenomena itu tak selalu keliru. Statistik pada esensinya merupakan instrumen untuk mengukur capaian pembangunan. Namun, masalah terjadi ketika angka-angka keberhasilan yang tampak di data, jauh dari realitas faktual yang masyarakat hadapi.
Dalam hal ini, Kabupaten Sumbawa Barat menghadirkan potret yang menarik untuk dibaca. Pemkab dalam ruang daringnya secara masif menyiarkan capaian statistis, serapan tenaga kerja yang tinggi, APBD Triliunan, hingga tagline yang mapan.
Dalam data terbaru yang dirilis pemkab, pemerintah berhasil menekan angka kemiskinan ekstrem hingga hanya 0,40 persen. Di sisi lain, Badan Pusat Statistik masih mencatat sekitar 19.460 penduduk atau 10,98 persen masyarakat KSB hidup di bawah garis kemiskinan. Pada saat yang hampir bersamaan, pemerintah daerah juga mengumumkan pendapatan daerah melampaui target dengan SiLPA mencapai Rp1,14 triliun.
Seluruh data tersebut benar. Tidak ada yang saling menafikan. Namun justru karena sama-sama benar, pertanyaannya apakah keberhasilan yang terlihat dalam indikator pembangunan telah benar-benar menjadi kesejahteraan yang dirasakan masyarakat?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena pembangunan pada akhirnya tidak diukur dari seberapa indah ia dipresentasikan, melainkan dari sejauh mana ia mengubah kualitas hidup masyarakat.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menyebut fenomena semacam ini sebagai symbolic power, yakni kemampuan kekuasaan membentuk cara publik memahami realitas melalui simbol, narasi, dan representasi. Sementara Jean Baudrillard menggambarkan masyarakat modern sebagai ruang yang dipenuhi simulasi, ketika citra perlahan lebih dipercaya daripada kenyataan yang diwakilinya.
Kerangka berpikir itu juga diadopsi akademisi Ilmu Politik NTB, Dr. Alfisyahrin, ketika ia membaca realitas pembangunan di NTB.
“Harus diakui bahwa Pemerintah hari ini sedang sibuk mengejar target NTB Makmur Mendunia tetapi di satu sisi, ada fakta krisis air bersih, pamer investasi tetapi faktanya banyak pengangguran, pejabat pidatokan NTB aman faktanya kekerasan dan pembunuhan terjadi di mana-mana.”
Menurutnya, persoalan bukan terletak pada upaya membangun citra positif pemerintahan. Hal itu merupakan bagian yang wajar dalam komunikasi publik. Yang patut diwaspadai adalah ketika produksi citra mulai menggantikan substansi kebijakan.
“Politik lokal NTB memang tampaknya sering kali lebih sibuk membangun persepsi daripada menyelesaikan akar masalah substantif. Mesin birokrasi sibuk memproduksi citra kunjungan simbolik pejabat, seremoni bantuan, dan video aksi humanis. Sah-sah saja dalam demokrasi, tetapi yang dikhawatirkan politik berubah menjadi panggung drama visual.”
Konteks itu koheren dengan realitas Sumbawa barat saat ini, ketika tambang menghasilkan triliunan Rupiah, APBD 2.29 Triliun, kemiskinan ekstrim di calim sisa 0,40 persen, Tetapi realitas menampar balik dengan fakta bahwa daya beli masyarakat KSB hanya naik 1 persen di satu tahun terakhir , 20 ribu masyarakat KSB masih hidup dalam garis kemiskinan, angka migrasi PMI meningkat, gerakan masyarakat akar ruput soal lapangan kerja masih masif diberitakan, hingga polemik turunan tambang seperti masalah ekologis dan ruang hidup lokal yang kian terdegradasi semakin intens terekspose.
Editorial Redaksi NARASIMEDIA.NET

