HEADLINENTBTERKINI

Batu Bara Pasokan PLTU Kertasari Tercecer, Warga Kembali Alami Kecelakaan

Sumbawa Barat, NARASIEMDIA.NET –Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di ruas Jalan Benete, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Insiden tersebut diduga dipicu material batu bara yang tercecer di badan jalan dari aktivitas angkutan dump truck.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis (29/1/2026) dan menimpa seorang warga asal Kecamatan Maluk. Korban diduga terpeleset akibat material batu bara yang jatuh dari kendaraan pengangkut yang melintas dari arah Benete menuju Taliwang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aktivitas bongkar muat batu bara di kawasan tersebut dilakukan oleh PT Elang, sementara pengangkutan di jalur darat menuju PLTU Kertasari KSB dilakukan oleh PT BSA. Batu bara tersebut merupakan pasokan untuk kebutuhan operasional PLTU Kertasari.

Baca Juga : Donasi Rp1,5 miliar di Tangan Agam Rinjani Berbuntut Polemik

Korban dilaporkan mengalami luka ringan dan telah menerima ganti rugi dari pihak perusahaan. Namun, warga menilai kejadian tersebut bukan yang pertama dan menunjukkan persoalan keselamatan jalan yang belum ditangani secara serius.

Ketua Aliansi For Justice Save KSB, Abbas Kurniawan, mengatakan kecelakaan tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pengangkutan batu bara di jalur umum.

“Material sering tercecer di jalan. Ini membahayakan pengguna jalan,” ujar Abbas.

Ia menilai perusahaan bongkar muat belum maksimal menerapkan standar keselamatan, baik dalam pengamanan muatan maupun pengaturan lalu lintas di jalur padat.

Aliansi For Justice Save KSB memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa pada Rabu mendatang. Aksi akan dipusatkan di kantor Dinas Perhubungan KSB dan PLTU Kertasari.

Dalam aksi tersebut, aliansi akan mendesak pergantian perusahaan bongkar muat batu bara, penerapan sistem pelacakan angkutan material, serta pengaktifan kembali sistem pengamanan lalu lintas berupa stop and go di titik rawan kecelakaan.

“Kalau tidak mampu menjamin keselamatan, perusahaan harus dievaluasi,” kata Abbas.

Selain itu, aliansi juga meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KSB melakukan uji sampel air laut di sekitar dermaga bongkar muat. Permintaan itu menyusul laporan warga terkait dugaan tumpahan batu bara ke laut saat proses bongkar muat.

“DLH perlu turun langsung dan menyampaikan hasilnya ke publik,” ujarnya.

Warga juga mengeluhkan berkurangnya pengamanan lalu lintas di jalur angkutan berat. Sejumlah titik yang sebelumnya dijaga dengan sistem stop and go kini tidak lagi difungsikan.

“Dari Jereweh sampai Labuhan Lalar sekarang hampir tidak ada penjagaan,” ujar seorang warga.

Baca Juga : Sengketa Tanah di Lombok Tengah: Klaim Sertifikat, Terlapor Mangkir Mediasi dan Singgung Kekuatan Politik

Beberapa titik yang dinilai rawan kecelakaan antara lain Tanjakan Benete, Labuhan Lalar, dan jalur menuju dermaga. Kondisi tersebut diperparah oleh kendaraan dengan muatan tidak tertutup dan mudah tumpah ke jalan.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan KSB sempat melakukan penertiban dan memberikan teguran kepada perusahaan pengangkut. Namun, warga menilai langkah tersebut belum konsisten.

Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Perhubungan KSB belum memberikan keterangan resmi terkait kecelakaan di Jalan Benete maupun rencana aksi Aliansi For Justice Save KSB. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *