Kebakaran Sade Pukul Ekonomi Warga, 69 Art Shop dan Sumber Penghasilan Ludes
LOMBOK TENGAH, NARASIMEDIA.NET –Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, bukan hanya menyisakan puing permukiman adat Suku Sasak. Musibah tersebut juga memukul aktivitas ekonomi warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari pariwisata, kerajinan tenun dan perdagangan.
Data terbaru menunjukkan sedikitnya 75 rumah warga dan 69 art shop terdampak kebakaran. Sejumlah fasilitas wisata dan fasilitas adat turut terbakar dalam peristiwa yang terjadi pada Sabtu (22/8/2026) malam tersebut.
Kepala Desa Rembitan Lalu Minakse sebelumnya menyebut sekitar 320 pelaku wisata di kawasan Sade terdampak. Mereka terdiri atas pengrajin tenun, pemandu wisata hingga pelaku usaha lainnya yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas wisata di kawasan tersebut.
“Dengan adanya musibah ini, ada 320 pelaku wisata kami yang hari ini kehilangan lapangan pekerjaan,” kata Lalu Minakse, sebagaimana diberitakan RRI, Minggu (23/8/2026).
Dampak ekonomi itu semakin terlihat dari hilangnya sarana produksi dan barang dagangan milik warga. Sejumlah peralatan menenun, kain tenun serta hasil produksi yang sedianya dijual kepada wisatawan ikut terbakar.
Salah seorang warga Sade, Talim atau Amaq Eva, mengatakan kerugian warga tidak hanya berasal dari bangunan yang terbakar. Barang-barang yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi keluarga juga ikut musnah.
“Karena di dalam rumah itu ada tenun, alat menenun, belum lagi padi, beras dan juga uang tunai,” kata Talim, dikutip dari detik bali, Rabu (26/8/2026).
Bagi masyarakat Sade, tenun bukan sekadar produk kerajinan. Aktivitas tersebut selama ini menjadi bagian dari mata pencaharian sekaligus tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Kondisi serupa dialami Inaq Aris, warga Sade yang kehilangan peralatan produksi dan sebagian barang dagangannya. Ia mengaku hanya sebagian kecil kain dagangannya yang berhasil diselamatkan ketika kebakaran terjadi.
Kehilangan tersebut membuat persoalan pascakebakaran tidak berhenti pada kebutuhan tempat tinggal. Warga juga membutuhkan pemulihan sarana produksi agar dapat kembali memperoleh penghasilan.
DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui anggota Komisi V Sitti Ari sebelumnya mendorong pemerintah segera memulihkan aktivitas ekonomi warga. Ia menilai bantuan modal usaha menjadi salah satu kebutuhan penting agar masyarakat dapat kembali menjalankan kegiatan ekonomi.
“Bagaimana mereka segera mendapatkan modal usaha, melakukan kegiatan sehari-hari, itu dulu,” kata Sitti Ari.
Sementara itu, pemerintah mulai menyusun langkah pemulihan kawasan Sade. Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan NTB melakukan pendataan dampak dan menyiapkan rencana pemulihan yang mencakup perbaikan bangunan tradisional, fasilitas pencegahan kebakaran serta pemulihan ekonomi warga melalui bantuan alat tenun.
Kerugian akibat kebakaran juga diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri pada 26 Agustus 2026 menyebut total kerugian sekitar Rp35 miliar.
Nilai kerugian tersebut tidak hanya merepresentasikan kerusakan fisik bangunan. Terhentinya aktivitas perdagangan, produksi tenun dan kunjungan wisata membuat pemulihan ekonomi menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi Sade.
Apalagi, kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Lombok Tengah. Aktivitas ekonomi masyarakat tumbuh beriringan dengan kedatangan wisatawan yang membeli kain tenun, cendera mata dan menggunakan jasa pemandu wisata.
Karena itu, pemulihan Sade menghadapi tantangan yang lebih luas daripada membangun kembali rumah warga. Pemerintah perlu memastikan warga memiliki kembali alat produksi, ruang usaha dan akses terhadap aktivitas wisata, sehingga masyarakat tidak hanya kembali memiliki tempat tinggal, tetapi juga kembali memiliki sumber pendapatan.

