BUDAYA DAN PARIWISATAEKONOMI DAN BISNISNTBTERKINI

Hilirisasi dan Pembenahan Gili Tramena Jadi Agenda Pemprov NTB–Komisi VII DPR RI

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong percepatan hilirisasi komoditas daerah sekaligus pembenahan kawasan wisata Gili Tramena sebagai bagian dari strategi mengubah struktur ekonomi NTB agar tidak bergantung pada sektor pertambangan.

Agenda tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI yang dipimpin Ketua Komisi VII Saleh Partaonan Daulay saat bertemu Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal di Kantor Gubernur NTB, Selasa (11/8/2026).

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal mengatakan perekonomian NTB mulai menunjukkan pergeseran dengan semakin kuatnya kontribusi sektor pertanian dan pariwisata. Salah satu indikatornya terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) NTB yang kini mencapai 132, naik dari 123 dan berada di atas rata-rata nasional sebesar 127.

Menurut Iqbal, peningkatan NTP menunjukkan sektor pertanian mulai memberikan tingkat pengembalian ekonomi yang lebih baik bagi petani, terutama pada subsektor hortikultura dan perkebunan.

“Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian kita memberikan return yang cukup baik bagi petani. Hortikultura dan perkebunan juga tumbuh cukup baik,” kata Iqbal.

Namun, pemerintah daerah menilai peningkatan produksi belum cukup untuk memastikan nilai ekonomi komoditas tetap dinikmati di NTB. Karena itu, hilirisasi menjadi salah satu agenda utama, termasuk pada sektor perikanan.

Iqbal mencontohkan komoditas udang vaname yang sebagian produksinya masih dikirim ke luar NTB untuk menjalani proses pengolahan sebelum diekspor. Pemprov NTB ingin proses tersebut mulai dilakukan di dalam daerah, setidaknya hingga tahap pengemasan.

“Prioritas kami adalah mendorong investasi hilirisasi di NTB. Minimal sampai proses packing, sehingga dokumen dan status ekspornya dapat tercatat atas nama NTB,” ujarnya.

Strategi serupa diarahkan pada sektor peternakan melalui pengembangan pakan mandiri berbasis bahan baku lokal. Jagung menjadi salah satu bahan utama, sedangkan kelor tengah dikaji sebagai alternatif karena ketersediaannya di NTB dan kandungan nutrisinya.

“Kita ingin melihat bagaimana kelor dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan dari luar,” kata Iqbal.

Pemprov NTB juga mendorong pengembangan kawasan percontohan sapi perah terintegrasi di Sembalun. Konsep tersebut mencakup rantai usaha dari penyediaan pakan dan pembibitan hingga pengolahan susu serta produk turunannya.

Di sektor pariwisata, pemerintah daerah mengubah orientasi pembangunan dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menuju quality tourism. Indikator yang dikejar mencakup lama tinggal, tingkat belanja wisatawan, keberlanjutan lingkungan, serta perlindungan budaya lokal.

“Yang kita kejar bukan hanya jumlah wisatawan, tetapi kualitas wisatawan, lama tinggal, dan belanjanya. Pada saat yang sama kita harus memastikan budaya lokal dan daya dukung lingkungan tetap terjaga,” tegas Iqbal.

Dalam konteks itu, pembenahan Gili Tramena—Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air—menjadi salah satu agenda strategis. Pemprov NTB menilai pengembangan kawasan tersebut tidak dapat hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan, tetapi harus terlebih dahulu menyelesaikan sejumlah persoalan mendasar.

Persoalan tersebut antara lain menyangkut status kawasan dan lahan, ketersediaan air bersih, serta pengelolaan sampah. Pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat dan lembaga terkait tengah mengupayakan penyelesaian persoalan tersebut secara menyeluruh.

“Kami ingin persoalan ini selesai pada akhir tahun. Penyelesaiannya harus one for all, semua kita selesaikan, baik dari sisi hukum maupun konservasi,” ujar Iqbal.

Untuk kebutuhan air bersih, Pemprov NTB menyiapkan alternatif melalui sistem beach well. Sementara persoalan sampah di kawasan kepulauan tersebut diarahkan untuk ditangani menggunakan teknologi pengolahan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengatakan Gili Tramena memiliki potensi besar untuk memperluas distribusi wisatawan mancanegara di Indonesia. Menurut dia, wisatawan asing yang datang ke Bali perlu didorong untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, termasuk tiga gili di Lombok Utara.

“Wisatawan yang datang dari luar negeri jangan hanya mengenal Bali. Destinasi seperti Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan juga harus kita arahkan menjadi bagian dari perjalanan wisata mereka,” kata Saleh.

Saleh menyatakan berbagai aspirasi Pemprov NTB akan dibawa dalam pembahasan Komisi VII bersama kementerian dan lembaga mitra. Isu yang menjadi perhatian mencakup pengembangan pariwisata, infrastruktur, lingkungan, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, industri pakan lokal, hingga penguatan UMKM.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memastikan kekayaan sumber daya NTB tidak berhenti sebagai komoditas mentah maupun destinasi wisata, tetapi menghasilkan nilai tambah di daerah. Pemerintah menargetkan proses tersebut berujung pada peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *