“Kerbau Punya Susu, Sapi Punya Nama”: Membaca Konflik Klaim dalam Data Penurunan Kemiskinan NTB
Mataram, NARASIMEDIA.NET – Klaim bahwa Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil keluar dari daftar 10 provinsi termiskin di Indonesia kembali menjadi debat usai capaian tersebut diclaim oleh pemerintahan baru. Namun, jika membaca tren data kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir, perubahan posisi tersebut merupakan bagian dari proses yang berlangsung bertahap.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan tingkat kemiskinan di NTB tidak terjadi secara tiba-tiba dalam satu periode pemerintahan. Tren tersebut telah terlihat sejak beberapa tahun sebelumnya.
Pada 2019, tingkat kemiskinan NTB tercatat sebesar 13,88 persen dengan posisi peringkat kedelapan provinsi termiskin secara nasional. Angka itu naik tipis menjadi 13,97 persen pada 2020 ketika pandemi Covid-19 mulai menekan perekonomian nasional.
Setelah itu, persentase kemiskinan NTB perlahan menurun. Pada 2021 tercatat 13,83 persen, kemudian turun lagi menjadi 13,68 persen pada 2022. Pada 2023 angka kemiskinan berada di 13,85 persen sebelum turun menjadi 12,91 persen pada 2024.
Data terbaru pada September 2025 menunjukkan tren penurunan tersebut masih berlanjut. Tingkat kemiskinan NTB tercatat sebesar 11,38 persen atau sekitar 637,18 ribu orang, berkurang 17,39 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Penurunan ini antara lain didorong oleh membaiknya daya beli masyarakat, intervensi bantuan sosial, serta berkurangnya jumlah penduduk miskin terutama di wilayah perdesaan.
Perubahan tersebut juga tercermin pada posisi NTB dalam peringkat nasional. Dari posisi kedelapan pada 2022, NTB bergeser ke peringkat ke-11 pada 2023, lalu ke posisi ke-12 pada 2024.
Dengan posisi tersebut, NTB secara statistik tidak lagi berada dalam kelompok 10 provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi sejak 2023.
Jika dihitung dalam rentang lima tahun terakhir, penurunan kemiskinan di NTB tercatat sekitar 0,97 persen, dari 13,88 persen pada 2019 menjadi 12,91 persen pada 2024.
Data ekonomi juga menunjukkan dinamika yang serupa. Pada 2020, ketika ekonomi nasional terkontraksi minus 2,07 persen akibat pandemi, perekonomian NTB justru masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,64 persen.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa perubahan tingkat kemiskinan di NTB berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lebih panjang.
Ungkapan “kerbau punya susu, sapi punya nama” dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan situasi ketika hasil dari proses panjang kemudian dilekatkan pada pihak yang muncul belakangan. Dalam pembacaan data kemiskinan NTB, istilah tersebut menjadi ilustrasi mengenai perbedaan antara tren statistik yang berkembang selama beberapa tahun dengan narasi keberhasilan yang muncul dalam satu momentum tertentu.

