Pertamina Patra Niaga Klarifikasi Isu Kapal Berlabuh di Karang Hidup Terminal BBM Ampenan
Mataram, NARASIMEDIA.NET – PT Pertamina Patra Niaga memastikan seluruh kegiatan operasional perusahaan, termasuk aktivitas kepelabuhanan, dijalankan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. Klarifikasi ini disampaikan menyusul munculnya isu terkait aktivitas kapal operasional di Terminal BBM Ampenan, Kota Mataram.
Isu yang beredar menyebutkan kapal milik Pertamina kerap menjatuhkan jangkar di atas karang hidup, di luar area pelabuhan aktif, serta berada dekat dengan wilayah tangkap nelayan tradisional. Menanggapi hal tersebut, Pertamina menegaskan bahwa seluruh aktivitas labuh, sandar, maupun manuver kapal dilakukan di zona yang telah ditetapkan oleh otoritas berwenang.
Baca Juga : Gertasi Desak Expose Ulang Kasus Lahan MXGP Samota ke Kejagung, Tim Sembilan Juga disebut
Area Manager Communication, Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa fasilitas sandar di Terminal BBM Ampenan menggunakan sistem Conventional Buoy Mooring (CBM) yang telah mengantongi izin resmi sebagai terminal atau pelabuhan khusus dari Otoritas Jasa Pelabuhan.
“Proses labuh dan sandar kapal berada di dalam zona yang telah ditetapkan. Terminal BBM Ampenan juga telah memiliki persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut dan berkoordinasi aktif dengan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat,” ujar Ahad dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).
Selain aspek operasional, Pertamina Patra Niaga juga mengklaim menjalankan kegiatan pendukung sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan. Menurut Ahad, Terminal BBM Ampenan melaksanakan program restorasi ekosistem pesisir di zona konservasi yang telah ditetapkan pemerintah.
Ia menjelaskan karakteristik pesisir Ampenan yang berpasir dan bukan kawasan muara membuat wilayah tersebut tidak sesuai untuk habitat mangrove. Karena itu, kegiatan restorasi difokuskan pada penanaman terumbu karang di Pantai Pandanan serta penanaman mangrove di Desa Cendi Manik, Sekotong.
“Program ini merupakan bagian dari dukungan perusahaan terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir dan pemberdayaan masyarakat sekitar,” tutupnya.
Pertamina Patra Niaga juga membuka akses layanan informasi kepada masyarakat melalui Pertamina Contact Center 135 untuk memperoleh keterangan lebih lanjut terkait layanan dan produk perusahaan.
Baca Juga : Batu Bara Pasokan PLTU Kertasari Tercecer, Warga Kembali Alami Kecelakaan
Sebelumnya, Aktivitas penambatan kapal milik PT Pertamina di perairan Ampenan, Kota Mataram, NTB, sebelumnya menuai keluhan masyarakat pesisir. Warga dan aktivis lingkungan menilai aktivitas kapal yang rutin berlabuh di dekat garis pantai diduga memicu kerusakan terumbu karang hidup serta memperparah abrasi pesisir. Dalam kurun satu tahun terakhir, abrasi di sejumlah titik dilaporkan mencapai 1 hingga 2 meter, terutama di kawasan Kampung Bugis, Pondok Prasi, hingga Bintaro.
Aktivis pesisir Ampenan, Jauhari Tantowi, menyebut pihaknya tidak hanya menyampaikan kesaksian lapangan, tetapi juga melampirkan hasil penelitian yang merinci secara empiris kerusakan ekologis di perairan tersebut. Temuan itu mencakup tingkat kerusakan terumbu karang, perubahan struktur dasar perairan, serta dampaknya terhadap wilayah tangkap nelayan tradisional. Menurutnya, data tersebut memperkuat dugaan bahwa aktivitas kapal besar di zona non-pelabuhan berkontribusi signifikan terhadap degradasi ekosistem pesisir, sekaligus menunjukkan lemahnya pengawasan dan mitigasi lingkungan di kawasan tersebut. (*)

