DKP NTB Pastikan Stok Ikan Aman Meski Cuaca Buruk
Mataram, NARASIMEDIA.NET — Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Muslim, ST., M.Si., memastikan ketersediaan stok ikan di pasaran tetap aman meski cuaca buruk dan angin barat melanda perairan NTB sejak awal Januari.
“Stok ikan masih aman. Tangkapan per Desember kemarin masih mampu mengisi permintaan pasar,” kata Muslim, saat dikonfirmasi, Rabu (14/1).
Untuk menjaga stabilitas pasokan ikan di pasar, DKP NTB mengandalkan stok ikan beku yang tersimpan di cold storage. Berdasarkan data per Desember 2025, total stok ikan di cold storage se-NTB mencapai 317.064 kilogram dengan kapasitas penyimpanan sebesar 3.076 ton.
“Kalau angin barat, nelayan banyak yang tidak melaut. Ikan yang dijual biasanya berasal dari cold storage, seperti ikan kembung, tongkol, layang, semar atau ikan batik, termasuk produk olahan ikan,” jelasnya.
Baca Juga : Masyarakat Pesisir Ampenan Keluhkan Kerusakan Karang dan Abrasi Akibat Kapal Pertamina
Khusus di Kota Mataram, Muslim menyebut stok ikan tercatat sebesar 131.634 kilogram dengan kapasitas cold storage mencapai 980 ton. Ia mengakui, jenis ikan yang tersedia di pasar memang lebih terbatas selama musim angin barat.
Meski demikian, ia memastikan kebutuhan konsumsi masyarakat tetap terpenuhi. “Konsumsi ikan utama di NTB, khususnya di Pulau Lombok, itu ikan nila hasil budidaya. Jadi meskipun tangkapan laut berkurang, kebutuhan masyarakat tetap aman,” ujarnya.
Terkait industri pemindangan, Muslim menyebut kendala utama adalah keterbatasan bahan baku. Untuk mengatasinya, DKP NTB mendatangkan pasokan ikan dari Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur.
Baca Juga : Akademisi Unram Kritisi Kejati Soal ‘pokir Siluman’ DPRD NTB, Nilai Penerima Harus Jadi Tersangka
“Permintaan bahan baku sudah kami lakukan, dan distribusi dilakukan bertahap menyesuaikan kapasitas cold storage yang tersedia,” katanya.
Sementara itu, ikan yang beredar di pasar selama musim angin barat umumnya didominasi jenis ikan demersal hasil pancingan, seperti kerapu, kakap, ketambak, dan langoan, serta ikan dari cold storage. Muslimin mengakui, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga.
“Berdasarkan pengalaman tahun 2025 dan tahun-tahun sebelumnya, memang terjadi kenaikan harga pada jenis ikan tersebut. Tapi untuk ikan budidaya seperti nila, harga relatif stabil di kisaran Rp30 ribu per kilogram,” pungkasnya.
Terkait imbauan keselamatan melaut, Muslim menegaskan pihaknya tidak mengeluarkan larangan secara kelembagaan karena telah ada edaran resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan kepada pemerintah daerah.
“Himbauan tidak kami lakukan secara kelembagaan karena sudah ada edaran dari BMKG. Rilis BMKG itu yang kami sebarkan melalui penyuluh perikanan di kabupaten/kota, kelompok pengawas perikanan di tiap desa, serta melalui HNSI hingga ke tingkat ranting,” ujarnya.
Baca Juga : Akses Jalan Menuju Sekongkang Rusak Parah Pasca Banjir, Warga KSB Tagih Tanggung Jawab Pemerintah & PT AMNT
Selain itu, DKP NTB juga terus melakukan koordinasi lintas sektor selama musim angin barat berlangsung. Koordinasi dilakukan dengan dinas perikanan kabupaten/kota, Dinas Sosial, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Setiap musim barat kami selalu berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk dinsos dan BPBD, untuk mengantisipasi dampaknya,” pungkas Muslim.

