HEADLINENTBTERKINI

Masyarakat Pesisir Ampenan Keluhkan Kerusakan Karang dan Abrasi Akibat Kapal Pertamina

Foto : Tangki Timbun (Storage Tank) PT Pertamina Cabang Ampenan. (Ist)

Mataram, NARASIMEDIA.NET – Aktivitas penambatan kapal milik PT Pertamina di perairan Ampenan, Kota Mataram, NTB, diduga menjadi pemicu utama kerusakan terumbu karang hidup dan abrasi pesisir yang kian parah. Dalam setahun terakhir, abrasi di sejumlah titik pesisir Ampenan dilaporkan mencapai 1 hingga 2 meter.

Aktivis lingkungan masyarakat pesisir, Jauhari Tantowi, mengungkapkan bahwa kapal-kapal Pertamina secara rutin menjatuhkan jangkar di atas karang hidup, bukan di area pelabuhan aktif. Aktivitas tersebut terjadi sangat dekat dengan daratan dan berada di wilayah tangkap nelayan tradisional.

“Dalam satu minggu bisa dua kapal Pertamina yang menambatkan jangkar di karang hidup. Itu bukan pelabuhan, itu pantai. Tempat biasa nelayan mancing dan mencari ikan dasar,” kata Jauhari saat diwawancarai, sabtu (10/1).

Baca Juga : Usut Dugaan Korupsi Alsintan Pokir DPRD KSB 2023–2025, Jaksa Amankan Puluhan Combine Harvester

Menurutnya, kerusakan terumbu karang berdampak langsung pada meningkatnya abrasi dan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Selain menghancurkan ekosistem bawah laut, hantaman gelombang yang dipantulkan dinding laut di sekitar area Pertamina juga menggerus pasir pantai secara signifikan.

“Abrasi paling parah itu di wilayah Kampung Bugis, Pondok Prasi, sampai Bintaro. Dalam satu tahun bisa mundur satu sampai dua meter. Ini bukan faktor alam semata,” tegasnya.

Jauhari menilai aktivitas tersebut menunjukkan tidak adanya standar operasional prosedur (SOP) penambatan kapal yang ramah lingkungan, terutama di kawasan pesisir non-pelabuhan. Ia juga mempertanyakan pengawasan pemerintah terhadap aktivitas kapal-kapal besar di wilayah perairan tersebut.

“Secara teknis ada aturan jarak penambatan kapal dari garis pantai. Tapi ini dilanggar terus. Pertanyaannya, siapa yang mengawasi?” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyebut bahwa dampak ekologis ini berbanding terbalik dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina dinilai tidak menyasar pemulihan lingkungan pesisir Ampenan yang terdampak langsung.

“CSR ada, tapi bukan untuk menanggulangi kerusakan ekologis. Yang kami tahu hanya bantuan pengolahan ikan ke satu kelompok kecil. Sementara kerusakan karang dan abrasi dibiarkan,” katanya.

Kerusakan terumbu karang juga berdampak pada nelayan kecil. Selain menurunnya populasi ikan dasar, nelayan mengeluhkan jaring mereka kerap rusak akibat lalu lintas kapal besar yang melintas dan berlabuh di sekitar area tangkap.

Baca Juga : Akses Jalan Menuju Sekongkang Rusak Parah Pasca Banjir, Warga KSB Tagih Tanggung Jawab Pemerintah & PT AMNT

Hingga berita ini diterbitkan, PT Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kerusakan terumbu karang dan abrasi pesisir Ampenan akibat aktivitas kapal mereka. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak Pertamina untuk mendapatkan klarifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *