Kiprah Nyata Perawat di Garda Terdepan Menjaga Bumi Maja Labo Dahu dari Ancaman Campak
Opini : Arif Rahman Hakim/Anggota DPD PPNI Kabupaten Bima.
Bima, NARASIMEDIA.NET – Di tengah keindahan alam dan kearifan budaya yang melekat di wilayah Maja Labo Dahu, kesehatan masyarakat menjadi pondasi utama dalam menjaga keharmonisan kehidupan bersama. Namun di awal tahun 2026 menjadi masa yang penuh tantangan bagi warga Kabupaten Bima.
Kendati demikian, penyakit campak yang sangat menular datang mengancam kesehatan anak-anak dan ketenangan di tanah Maja Labo Dahu.
Menghadapi bahaya ini, Pemerintah Kabupaten Bima bergerak cepat dengan rencana yang matang dan tegas. Dukungan paling nyata datang dari para perawat yang berdiri paling depan, bekerja siang dan malam demi melindungi warga. Sinergi kuat antara kebijakan yang cerdas dan pengabdian tulus perawat menjadi benteng utama mematahkan serangan wabah ini.
Langkah pertama yang tegas diambil pemerintah adalah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) secara resmi pada 11 Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah data menunjukkan jumlah kasus yang mengkhawatirkan, yakni tercatat 306 orang sakit dan satu kematian hingga akhir Januari.
Penetapan ini menjadi landasan hukum yang kuat agar segala urusan berjalan lancar, birokrasi dipermudah, dana dan peralatan segera disiapkan serta tenaga kerja dikerahkan tanpa menunda waktu. Pemerintah segera membentuk tim gabungan yang menyatukan Dinas Kesehatan, TNI, Polri, pihak sekolah, kepala desa, hingga tokoh agama dan masyarakat. Semua bergandengan tangan untuk satu tujuan bersama.
Salah satu kebijakan paling utama adalah melaksanakan imunisasi besar-besaran atau yang disebut Imunisasi Tanggap Wabah (ORI).
Dalam program imunisasi tersebut sasarannya sangat jelas yaitu seluruh anak usia 9 sampai 59 bulan, tanpa mempedulikan apakah mereka sudah pernah divaksin atau belum.
Tidak hanya itu, dukunganpun mengalir deras dari Pemerintah pusat berupa 200.000 dosis vaksin yang segera disebar ke setiap pelosok kecamatan.
Daerah yang menjadi prioritas adalah tempat yang cakupan imunisasinya masih rendah dan banyak terjadi penularan, seperti kecamatan Bolo, kecamatan Madapangga dan sekitarnya. Setiap tetes dan suntikan vaksin yang mereka berikan adalah harapan baru.
Lewat aksi jemput bola ini perawat memastikan tidak ada satupun anak yang terlewati dari perlindungan imunisasi, karena mereka tahu satu anak yang tidak divaksinasi bisa menjadi pintu masuk bagi wabah yang lebih besar.
Selain vaksinasi, pemerintah juga memperketat pemantauan penyakit. Setiap kasus baru harus segera dilaporkan, orang yang pernah berdekatan dengan pasien harus diperiksa seksama, dan lingkungan tempat tinggal dibersikan agar virus tidak bersarang. Pemerintah juga gencar menyebarkan informasi yang benar dan jujur supaya warga tidak terjebak pada berita bohong atau hoaks yang sering menimbulkan ketakutan yang tidak perlu di masyarakat.
Di balik lancarnya rencana pemerintah, ada peran luar biasa dari para perawat. Mereka adalah garda terdepan yang menyambut pasien pertama kali, baik di ruang rawat puskesmas maupun saat harus berjalan jauh menelusuri rumah-rumah warga melakukan sweeping dengan melintasi medan Bima yang terjal.

