HAPPENINGNTBTERKINI

Air Laut Jadi Air Bersih, NTB Siapkan Teknologi SWRO untuk Pulau Kecil

MATARAM, NARASIMEDIA.NET –Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjajaki penerapan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk menjawab keterbatasan air bersih di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Rencana penerapan teknologi tersebut dibahas dalam pertemuan koordinasi dan sinkronisasi penyusunan proposal Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS) yang digelar secara daring pada Selasa (11/8/2026).

Lokasi yang dijajaki berada di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Teknologi SWRO dirancang untuk mengolah air laut menjadi air layak minum dengan kapasitas yang direncanakan mencapai 120 meter kubik per hari.

Bagi NTB sebagai provinsi kepulauan, penyediaan air bersih menjadi salah satu tantangan di sejumlah wilayah pesisir dan gili. Selama ini, kebutuhan air di sejumlah pulau kecil dipenuhi melalui distribusi dari daratan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama saat musim kemarau dan kebutuhan air meningkat seiring aktivitas masyarakat serta pariwisata.

Kepala Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Ario Betha Juanssilfero, menegaskan pengembangan teknologi tersebut harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata mengejar aspek teknis.

“Proposal ini bukan hanya harus layak secara teknologi, tetapi juga harus benar-benar menjawab kebutuhan daerah dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam rancangan yang dipaparkan BRIN, air laut akan melalui beberapa tahapan pengolahan. Prosesnya mencakup pre-treatment, penyaringan, reverse osmosis, hingga post-treatment sebelum air disimpan dan didistribusikan kepada masyarakat.

Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, mengatakan pengembangan SWRO memiliki relevansi dengan kondisi NTB yang memiliki banyak kawasan pesisir dan pulau kecil, termasuk wilayah Sekotong yang juga berkembang sebagai destinasi pariwisata.

Menurutnya, penerapan teknologi tersebut berpotensi memberikan manfaat tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi kawasan pariwisata.

“Jika teknologi ini berhasil dikembangkan di Sekotong, potensinya tidak hanya untuk masyarakat setempat, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan kawasan pariwisata,” jelasnya.

Tak Hanya Bangun Instalasi

Pembahasan SWRO tidak berhenti pada kemampuan teknologi mengolah air laut. BRIN juga menekankan pentingnya aspek pengelolaan dan keberlanjutan setelah instalasi beroperasi.

Sejumlah aspek yang menjadi perhatian antara lain penerimaan masyarakat, kemampuan membayar, biaya operasional, mekanisme pemeliharaan, kelembagaan pengelola serta pengawasan.

Hal tersebut dinilai penting karena keberadaan instalasi belum otomatis menjamin teknologi dapat terus beroperasi apabila tidak didukung tata kelola dan pembiayaan pemeliharaan yang memadai.

BRIN juga menyiapkan proses transfer teknologi dan pengetahuan selama pelaksanaan proyek. Langkah tersebut diarahkan agar pengelola di daerah nantinya mampu mengoperasikan instalasi secara mandiri.

Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan menyiapkan lokasi, kelembagaan pengelola, pengawasan, serta komitmen keberlanjutan.

Sebagai tindak lanjut, BRIN dan BRIDA NTB akan menyiapkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang memuat ruang lingkup, lokasi, tahapan, dan durasi kegiatan. Penentuan lokasi juga masih akan dikaji dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan kesiapan pemerintah daerah.

Pengembangan SWRO di Sekotong menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan daerah dengan kapasitas riset dan teknologi. Jika dapat diwujudkan sesuai perencanaan, teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif penyediaan air bersih bagi masyarakat di kawasan pesisir dan pulau kecil NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *