BUDAYA DAN PARIWISATANTBTERKINI

Pekan Apresiasi Sastra Lombok Utara 2026 Resmi Dibuka, Dorong Sastra Sasak Kembali Menjadi Energi Kultural Generasi Muda

LOMBOK UTARA, NARASIMEDIA.NET – Pekan Apresiasi Sastra Kabupaten Lombok Utara 2026 resmi dibuka pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan yang mengangkat tema “Menghidupkan Kembali Sastra Lokal sebagai Energi Kultural dalam Membangun Generasi Berbudaya, Kritis, dan Berdaya Saing” tersebut dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Lombok Utara, Raden Sawinggih.

Kegiatan yang diselenggarakan Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tersebut menjadi salah satu ruang penting untuk memperkuat eksistensi sastra lokal, khususnya sastra Suku Sasak, di tengah perkembangan budaya dan teknologi yang semakin cepat.

Pembukaan kegiatan ditandai dengan sambutan Kepala Bidang Kebudayaan Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara, Raden Sawinggih, yang menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan sastra yang memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari, sekaligus mengembangkan sastra daerah.

Menurut Sawinggih, sastra lokal tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dihidupkan melalui ruang-ruang kreatif yang melibatkan generasi muda.

> *“Sastra daerah merupakan bagian dari identitas dan kekayaan budaya kita. Karena itu, kegiatan seperti Pekan Apresiasi Sastra ini penting untuk memberikan ruang kepada generasi muda agar mereka tidak hanya mengenal sastra Sasak, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkannya sesuai dengan perkembangan zaman,”*

Ia juga menilai bahwa penguatan sastra lokal perlu dilakukan secara bersama-sama melalui sinergi pemerintah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, masyarakat, serta para pelaku sastra dan kebudayaan.

> *“Kita ingin sastra lokal tetap hidup di tengah masyarakat. Anak-anak muda harus diberikan kesempatan untuk membaca, menulis, berbicara dan berkarya melalui sastra. Dari sana akan tumbuh kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah,”* lanjutnya.

Sawinggih berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan dalam pengembangan ekosistem sastra dan kebudayaan di Kabupaten Lombok Utara.

Sementara itu, Ketua Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira, Sandi Justitia Putra, S.I.Kom., MA, mengatakan Pekan Apresiasi Sastra Kabupaten Lombok Utara 2026 lahir dari kegelisahan terhadap semakin terbatasnya ruang apresiasi dan ekspresi sastra lokal.

Sandi yang juga merupakan Sekretaris Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Lombok Utara menegaskan bahwa sastra bukan sekadar persoalan karya tulis, tetapi merupakan bagian dari cara masyarakat merawat ingatan, nilai, identitas, dan pengetahuan budaya.

> *“Kami ingin sastra lokal tidak hanya menjadi sesuatu yang dibicarakan sebagai warisan, tetapi benar-benar dihidupkan kembali sebagai praktik kebudayaan. Sastra harus hadir di tengah generasi muda, menjadi ruang untuk berpikir kritis, berekspresi, membaca realitas, sekaligus mengenali identitas budayanya,”* ujar Sandi.

Menurutnya, pemilihan tema “Menghidupkan Kembali Sastra Lokal sebagai Energi Kultural dalam Membangun Generasi Berbudaya, Kritis, dan Berdaya Saing” memiliki makna strategis.

> *“Kita menggunakan istilah energi kultural karena sastra memiliki daya untuk menggerakkan. Ia bisa menggerakkan ingatan, kreativitas, keberanian berpikir, bahkan kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kebudayaan. Karena itu, sastra lokal harus kita tempatkan sebagai kekuatan untuk membangun generasi Lombok Utara,”* jelasnya.

Sandi menambahkan, penyelenggaraan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

> *“Rumah budaya kembang rampe sammira tidak bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan pemerintah, sekolah, komunitas, guru, seniman, budayawan, penulis, orang tua dan terutama generasi muda. Pekan Apresiasi Sastra ini kami harapkan menjadi titik temu dari berbagai unsur tersebut,”* katanya.

Pekan Apresiasi Sastra Kabupaten Lombok Utara 2026 tidak hanya berupa satu kegiatan, tetapi dirancang sebagai rangkaian program apresiasi, edukasi, kompetisi, dan pertunjukan sastra.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Lomba Baca Puisi Bahasa Sasak, Lomba Cipta Puisi dengan Penggunaan Bahasa Sasak, Lomba Cerpen dengan tema “Mempolong Merenten”, serta Lomba Storytelling dengan tema cerita rakyat Sasak.

Selain kompetisi, penyelenggara juga menghadirkan Lokakarya/Penulisan Puisi sebagai ruang pembelajaran bagi peserta untuk mengenal proses kreatif, teknik penulisan, pengembangan ide, hingga bagaimana menjadikan pengalaman dan lingkungan budaya sebagai sumber penciptaan karya sastra.

Rangkaian berikutnya adalah Diskusi & Seminar Sastra Suku Sasak yang dijadwalkan menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai keberadaan, perkembangan, tantangan, dan masa depan sastra Sasak.

Seluruh rangkaian kemudian akan diperkaya melalui Malam Panggung Apresiasi Sastra, sebagai ruang bagi peserta dan para pelaku sastra untuk menampilkan karya serta merayakan kreativitas sastra lokal.

Dengan demikian, Pekan Apresiasi Sastra Kabupaten Lombok Utara 2026 tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pada proses belajar, mencipta, berdiskusi, mengapresiasi, dan mempertunjukkan karya sastra.

Penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperluas ruang penggunaan bahasa dan sastra Sasak, khususnya di kalangan generasi muda di kabupaten Lombok utara.

Sandi mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar sastra lokal saat ini adalah bagaimana membuatnya tetap relevan bagi generasi yang hidup dalam ekosistem digital.

> *“Kita tidak bisa meminta generasi muda kembali ke masa lalu. Yang harus kita lakukan adalah membawa sastra lokal ke ruang mereka. Sastra Sasak harus bisa hadir di sekolah, komunitas, panggung pertunjukan, media sosial, platform digital, dan berbagai ruang kreatif lainnya,”* ungkapnya.

Ia menilai perkembangan teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman terhadap sastra lokal, melainkan sebagai peluang untuk memperluas jangkauan karya sastra.

> *“Teknologi harus kita jadikan medium baru untuk memperkenalkan sastra lokal. Tantangannya adalah bagaimana substansi nilai dan identitas Sasak tetap terjaga ketika karya itu hadir dalam bentuk dan medium yang baru,”* tambahnya.

Pekan Apresiasi Sastra Kabupaten Lombok Utara 2026 diharapkan dapat menjadi agenda yang tidak berhenti pada tahun ini, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk memperkuat literasi, bahasa, sastra, dan kebudayaan lokal di Kabupaten Lombok Utara.

Melalui kegiatan tersebut, sastra diharapkan tidak hanya menjadi teks yang dibaca, tetapi menjadi ruang perjumpaan antargenerasi, sumber pengetahuan budaya, media ekspresi, sekaligus energi kultural bagi lahirnya generasi Lombok Utara yang berbudaya, kritis, kreatif, dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *