BUDAYA DAN PARIWISATAHAPPENINGTERKINI

Gula Gending 2.0 Hidupkan Kembali Tradisi Bunyi Lombok Lewat Pertunjukan Post-Tradisional

Sumber Foto Thubnail : Ronald Goodwidya Panggabean

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Antusiasme masyarakat memenuhi Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat pada Jumat (12/6/2026) malam saat pertunjukan Gula Gending 2.0 digelar. Sejumlah calon penonton bahkan tidak dapat masuk karena kapasitas gedung telah penuh.

Pertunjukan yang diproduseri musisi dan kreator seni Yuga Anggana itu menghadirkan pembacaan baru terhadap tradisi Gula Gending, salah satu tradisi bunyi yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Lombok dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024.

Sumber : Catazkya

Berbeda dari pendekatan pelestarian budaya yang umumnya bersifat dokumentatif, Gula Gending 2.0 mengolah tradisi tersebut menjadi sebuah pertunjukan post-tradisional yang memadukan teater, tari, musik, dan seni visual kontemporer.

Baca Juga : Jelang MotoGP, NTB Kebut Pembukaan Dua Rute Penerbangan ke Australia

Sejak memasuki area gedung, penonton telah diajak berinteraksi dengan atmosfer pertunjukan melalui kehadiran penjual gula rambut nenek yang meracik dagangannya secara langsung. Di area yang sama, instalasi patung penjual Gula Gending karya seniman Wang Arzacky turut menjadi bagian dari pengalaman artistik sebelum penonton memasuki ruang teater.

Di atas panggung, pertunjukan mengisahkan perjalanan Rawi, seorang penjual Gula Gending dari Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur, yang merantau demi memperjuangkan cintanya kepada Saknah. Namun kisah tersebut berkembang menjadi refleksi yang lebih luas tentang keluarga, kerja keras, perubahan zaman, dan upaya mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi.

Baca Juga : Tampak Fullweek di Sirkuit Mandalika, Track Day hingga “Lampaq” Jadi Daya Tarik Wisata

Menurut tim kreatif, seluruh proses penciptaan karya berangkat dari riset lapangan yang dilakukan langsung di Desa Kembang Kerang Daya, salah satu wilayah yang masih mempertahankan tradisi Gula Gending. Tim menemui para penjual, pembuat rombong, pelestari tradisi, hingga keluarga yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari aktivitas tersebut.

Hasil riset itu kemudian diterjemahkan ke dalam naskah karya De Galih Mulyadi, tata artistik Wang Arzacky, koreografi Irma Septiana, serta komposisi musik yang digarap Yuga Anggana bersama Gde Agus Mega, Kharisma Priasa, dan Ary Musa.

Salah satu unsur yang menarik perhatian adalah penggunaan rombong asli milik para pelaku Gula Gending dalam pertunjukan. Bunyi yang selama ini akrab terdengar di jalan-jalan kampung diolah menjadi elemen musikal dan dramatik yang berdialog dengan berbagai disiplin seni lainnya.

Hubungan antara pertunjukan dan masyarakat pemilik tradisi juga terlihat melalui pemilihan nama tokoh utama. Nama Rawi diambil dari salah seorang pelestari Gula Gending yang selama bertahun-tahun aktif mendokumentasikan dan memperjuangkan keberlangsungan tradisi tersebut.

Baca Juga : Wane, Primadona Baru dari Timur Nusantara

Rawi yang hadir langsung menyaksikan pertunjukan mengaku terharu melihat tradisi yang selama ini ia rawat mendapat perhatian luas dari publik.

“Luar biasa menyaksikan pertunjukan ini. Tidak secara keseluruhan menggambarkan kehidupan saya tentu saja, namun entah kenapa saya terharu melihat keberhasilan pertunjukan ini,” ujarnya.

Menurut Rawi, pertunjukan tersebut menjadi penanda bahwa upaya menjaga tradisi kini tidak lagi dilakukan secara individual, melainkan telah melibatkan banyak pihak dari berbagai latar belakang.

Keberhasilan produksi juga tidak lepas dari peran sutradara Taufik Mawardi yang mengarahkan pemain lintas generasi dan latar belakang. Pertunjukan melibatkan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, sebagian di antaranya baru pertama kali tampil dalam produksi teater berskala besar.

Produser pertunjukan, Yuga Anggana, menyebut proses penciptaan Gula Gending 2.0 memberikan pengalaman yang melampaui penciptaan karya seni semata.

“Saya merasa mendapatkan keluarga baru,” kata Yuga.

Ia menilai solidaritas yang terbangun selama proses riset, latihan, dan produksi menjadi salah satu faktor penting yang mendukung keberhasilan pertunjukan.

Baca Juga : Pantai Orong Bukal, Sekeping Surga yang Masih Sepi

Gula Gending 2.0 didukung oleh Dana Indonesiana dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta melibatkan berbagai komunitas seni dan budaya di Nusa Tenggara Barat, antara lain Yagna Semesta Inisiatif, SKALA, Kampoeng Baca Pelangi, Daripada Kosong Art Space, Lago Talk, Komunitas Erkaem, dan Jatiswara Films.

Bagi sebagian penonton, kekuatan pertunjukan terletak pada kedekatannya dengan pengalaman hidup sehari-hari. Marta, salah seorang penonton, mengaku pertunjukan tersebut membangkitkan ingatan masa kecilnya terhadap jajanan tradisional yang dahulu akrab ditemui di lingkungan tempat tinggalnya.

Sementara itu, penonton lainnya, Angga Putradi, menilai pertunjukan berhasil memperlihatkan sisi lain dari tradisi yang selama ini hanya dipahami sebagai bagian dari dunia anak-anak.

“Pertunjukan ini membuat saya sadar bahwa di balik Gula Gending ada kisah kehidupan, cinta, pengorbanan, tanggung jawab, dan perjalanan banyak orang yang selama ini tidak pernah saya pikirkan,” ujarnya.

Baca Juga : Museum Genggelang : Pintu Pembuka Memahami Peradaban Kedatuan Gangga

Melalui pendekatan artistik yang berpijak pada riset dan kolaborasi lintas disiplin, Gula Gending 2.0 menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu. Tradisi dapat terus hidup, berkembang, dan menemukan makna baru ketika dihadirkan kembali dalam bahasa yang relevan bagi masyarakat masa kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *