HEADLINENTBTERKINI

Di Balik Surplus Beras dan Sapi NTB, Masyarakat Masih Alami Deficit Protein

Mataram, NARASIMEDIA.NET

Di tengah surplus beras dan melimpahnya populasi sapi, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menghadapi persoalan mendasar terkait kualitas gizi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi padi NTB mencapai sekitar 1,71 juta ton gabah kering giling (GKG) pada 2025, meningkat lebih dari 17 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, populasi sapi menembus 1,3 juta ekor dan angka Prevalence of Undernourishment (PoU) atau ketidakcukupan konsumsi pangan tercatat 2,67 persen, terendah di Indonesia. Namun di balik capaian tersebut, NTB masih mencatat 51.809 kasus stunting, sebuah indikator yang menunjukkan bahwa ketersediaan pangan belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kualitas gizi yang memadai.

Data yang dirilis BPS Provinsi NTB tahun 2025, menunjukkan jumlah balita stunting masih mencapai 51.809 kasus stunting. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan pangan di NTB tidak lagi semata menyangkut ketersediaan kalori, melainkan kualitas konsumsi yang diterima masyarakat.

Perbedaan antara pangan dan gizi sering kali luput dalam diskursus dalam perumusan kebijakan pangan. Produksi beras yang tinggi memang dapat menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat. Namun kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh kecukupan karbohidrat. Pertumbuhan anak, perkembangan jaringan tubuh, pembentukan sistem imun, hingga fungsi metabolisme sangat bergantung pada kecukupan protein serta berbagai mikronutrien seperti zat besi, vitamin, dan mineral.

Kajian Guoyao Wu dalam Dietary Protein Intake and Human Health menjelaskan bahwa protein merupakan sumber asam amino yang menjadi bahan baku utama pembentukan jaringan tubuh dan berbagai senyawa biologis penting. Kekurangan protein dalam jangka panjang tidak hanya menyebabkan kelemahan fisik, tetapi juga berkorelasi dengan stunting, anemia, gangguan sistem imun, hingga hambatan pertumbuhan. Sebaliknya, konsumsi protein berkualitas tinggi, terutama yang berasal dari sumber hewani seperti daging dan susu, merupakan prasyarat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia yang optimal.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan pangan tidak dapat diukur semata-mata dari melimpahnya produksi beras. Ketersediaan kalori memang mencegah kelaparan, tetapi tidak otomatis menjamin kualitas gizi. Dengan kata lain, surplus karbohidrat tidak selalu identik dengan kecukupan protein. Pada konteks NTB, paradoksnya ketika provinsi yang mampu menghasilkan 1,71 juta ton padi dan memiliki populasi sapi lebih dari 1,3 juta ekor masih mencatat 51.809 kasus stunting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *