Faktor Cuaca dan FOMO Dinilai Picu Kecelakaan Air Terjun Di Lombok, Ari Garmono Dorong Regulasi dan Edukasi Destinasi Diperkuat
Mataram, NARASIMEDIA.NET – Maraknya kecelakaan wisata alam di sejumlah air terjun di Pulau Lombok sepanjang 2026 mendapat sorotan dari peneliti sekaligus pemerhati pariwisata, Ari Garmono. Ia mendesak pemerintah segera menyusun regulasi dan standar keselamatan untuk menekan risiko korban jiwa di destinasi tersebut.
Berdasarkan catatan yang dihimpun, sedikitnya tiga kecelakaan fatal terjadi tahun ini, masing-masing di kawasan Tibu Ijo Kekeri, Temburun Nanas, Batu Tinggi (Bukit Tinggi) di Lombok Barat, serta Tiu Bombong di Santong, Lombok Utara.
Ari menyebut, tingginya angka kecelakaan dipicu sejumlah faktor utama. Pertama, kondisi cuaca yang sulit diprediksi, terutama curah hujan di wilayah hulu yang berpotensi memicu banjir bandang secara tiba-tiba. Kedua, aktivitas berenang di area jatuhan air terjun yang memiliki arus kuat dan pusaran berbahaya, ditambah kedalaman kolam yang tidak terukur.
“Khusus di Tiu Bombong, sejak 2012 saya mengamati kedalaman kolamnya tidak bisa diprediksi, sehingga sangat berbahaya untuk berenang,” ujarnya.
Faktor lain adalah rendahnya kesiapan pengunjung. Banyak wisatawan dinilai belum memahami karakter medan, tidak membawa perlengkapan memadai, serta minim pengalaman aktivitas di alam terbuka.
Selain itu, Ari menyoroti pengaruh media sosial yang mendorong perilaku berisiko. Konten wisata yang viral cenderung hanya menampilkan keindahan tanpa informasi bahaya, memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan wisatawan. Dalam beberapa kasus, insiden kecelakaan bahkan kembali disebarluaskan sebagai konten demi meningkatkan interaksi, tanpa mempertimbangkan aspek etika.
Menyikapi kondisi tersebut, Ari mendesak pemerintah dan pemangku kepentingan segera menyusun standar operasional prosedur (SOP) keselamatan wisata alam, memperkuat edukasi mitigasi risiko, serta melibatkan instansi teknis seperti BPBD dan Basarnas dalam sosialisasi.
Ia juga mendorong pemerintah desa menyusun peraturan desa (Perdes) yang mengatur registrasi pengunjung, pembatasan jumlah wisatawan, hingga verifikasi kesiapan fisik dan perlengkapan sebelum memasuki lokasi berisiko.
Di sisi lain, penggunaan pemandu lokal dinilai penting untuk meminimalkan risiko. Ari juga mengingatkan agar wisatawan mempertimbangkan kesiapan biaya sebagai bagian dari aspek keselamatan.
“Biaya perjalanan adalah investasi keselamatan. Jangan memaksakan diri jika tidak siap,” katanya.
Ia berharap seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat dan pelaku wisata, memandang persoalan ini sebagai isu serius. “Jangan sampai wisata berujung tragedi,” ujarnya.

