HEADLINETERKINI

LIPSUS : Ikan Mati Massal di KSB, Dugaan Lama Soal Pencemaran Muncul Lagi

Sumbawa Barat, NARASIMEDIA.NET – Sebuah video reels yang diunggah akun Facebook SumbawanesiaTV memperlihatkan puluhan ikan mati terdampar di bibir pantai Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Rekaman berdurasi singkat itu viral di media sosial dan memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat.

Dalam video yang telah ditonton lebih dari 75 ribu kali tersebut, terlihat deretan ikan mati tersapu ombak di tepi pantai. Pada keterangan video, pengunggah menuliskan narasi, “Banyak ikan mati terdampar, ada apa dengan laut di KSB?”

Namun hingga kini, belum diketahui secara pasti di wilayah pesisir mana fenomena itu terjadi. Video tersebut hanya menyebut lokasi umum di Kabupaten Sumbawa Barat.

Ketiadaan informasi lokasi yang jelas membuat kolom komentar dipenuhi dugaan dan spekulasi. Sebagian warganet mengaitkan kematian ikan dengan dugaan pencemaran limbah tambang.

“Ini di KSB-nya mana? Bagian Maluk, Sekongkang, atau Tongo? Karena daerah itu limbah tambang dibuang,” tulis akun Facebook bernama Irawan Zain.

Komentar lain bahkan mengarah pada dugaan adanya kandungan bahan kimia dari aktivitas pertambangan.

“Racun limbah tambang yang mengandung sejenis potasium. Mungkin tambang rakyat jika di Boa Brang Taliwang. Tapi jika di Tongo atau Sekongkang, dari tambang PT Amman,” tulis akun lain.

Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan. Hingga berita ini ditulis, belum ada hasil penelitian, pengambilan sampel, maupun uji laboratorium yang dapat memastikan penyebab kematian ikan Dari otoritas setempat.

Di sisi lain, tidak sedikit pula warganet yang membantah dugaan pencemaran limbah. Sejumlah komentar menyebut ikan-ikan tersebut kemungkinan merupakan dampak aktivitas bom ikan di laut.

“Itu biasanya sisa orang ngebom ikan di dasar laut. Jadi tidak terdengar dari atas. Ikan-ikan itu kemudian dibawa arus ombak ke pantai,” tulis akun Facebook Mas R Sa.

Dugaan penggunaan bom ikan dinilai masuk akal karena ledakan di bawah permukaan laut kerap menyebabkan biota mati massal dan kemudian hanyut ke tepian. Namun, seperti halnya dugaan pencemaran limbah, asumsi tersebut juga belum dapat diverifikasi.

Sejumlah warga justru meminta pemerintah dan aparat terkait segera turun tangan untuk memastikan penyebab kematian biota laut tersebut.

“Harus segera ada penelitian yang serius. Agar kita tidak menduga-duga,” tulis akun Fajar Rachmat.

Desakan serupa muncul karena polemik kematian biota perairan bukan kali pertama terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat.

Riwayat Kasus Serupa

Sebelumnya, redaksi pernah menerima laporan warga terkait kematian biota sungai di salah satu wilayah KSB. Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku keluarganya pernah menemukan udang sungai berukuran kecil dalam kondisi mati dan diduga mengalami keracunan.

“Keluarga suami saya yang tinggal dekat sungai itu pernah bercerita soal banyak udang kecil yang tiba-tiba mati dan seperti mabuk,” ujarnya.

Menurut warga tersebut, lokasi smelter berada cukup dekat dengan aliran sungai dan permukiman warga. Kedekatan itu memunculkan kecurigaan bahwa kematian biota sungai berkaitan dengan aktivitas industri.

“Letak smelter dengan perkampungan paling dekat itu di Otak Risa, RT 10 dan 11. Jaraknya mungkin sekitar 100 sampai 200 meter dari sungai,” katanya.

Dalam kasus berbeda yang pernah terjadi di kawasan Maluk, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, Aku Nur Rahmadin, saat dikonfirmasi 20 Desember 2025 lalu, menyatakan pihaknya pernah melakukan uji sampel air menggunakan laboratorium portabel milik Dinas Lingkungan Hidup.

Dari hasil pengujian tersebut, ditemukan kandungan potasium di dalam air.

“Hasil pengujian menunjukkan parameter potasium sebesar 3,2 mg/L,” ujarnya.

Meski demikian, temuan itu terjadi dalam konteks kasus lain dan belum dapat dikaitkan langsung dengan fenomena ikan mati yang kini viral di pesisir KSB. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *