LIPSUS: “Data Harus Positif?”, Suara Mahasiswa Pascasarjana Soal Tekanan di Balik Riset Akademik
Oleh Redaksi
NARASIMEDIA.NET – Fenomena dorongan agar hasil penelitian “terlihat baik” disebut bukan lagi hal asing di sebagian lingkungan akademik. Seorang mahasiswa pascasarjana yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan adanya tekanan tidak langsung dari sebagian dosen pembimbing agar hasil riset cenderung menunjukkan temuan positif, meski data di lapangan tidak selalu demikian.
Dalam keterangannya, mahasiswa tersebut menyebut bahwa praktik ini kerap muncul saat penelitian menyangkut isu-isu strategis seperti pertumbuhan ekonomi daerah. “Ketika ada variabel yang sebenarnya tidak signifikan atau bahkan berdampak negatif, ada dorongan agar hasilnya ‘dibuat’ menjadi signifikan positif,” ujarnya. Menurutnya, hal ini sering dibingkai sebagai upaya menjaga citra baik suatu daerah, meski berpotensi mengaburkan realitas faktual.
Ia menilai, fenomena tersebut merupakan “rahasia umum” yang juga pernah didiskusikan bersama sejumlah dosen senior. Dalam diskusi itu, disebutkan adanya kecenderungan untuk “mengolah data” agar sesuai dengan ekspektasi tertentu. Padahal, secara akademik, praktik semacam ini bertentangan dengan prinsip objektivitas dan integritas ilmiah.
Meski demikian, mahasiswa tersebut menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat secara hitam-putih dengan menyalahkan dosen semata. Ia mengungkap adanya tekanan struktural yang cukup berat, mulai dari tuntutan publikasi, beban administrasi, hingga kewajiban pemenuhan kinerja akademik seperti Beban Kerja Dosen (BKD). “Dosen dituntut menghasilkan banyak karya dalam setahun, sementara waktu, anggaran, dan ruang riset terbatas,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, berimplikasi pada munculnya penelitian-penelitian yang dinilai kurang mendalam atau sekadar memenuhi kewajiban administratif. Ia menyebut, dalam beberapa kasus, kualitas riset menjadi dikompromikan demi mengejar target kuantitas. “Akhirnya muncul penelitian yang tidak berkualitas, atau dipaksakan hasilnya agar sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Mahasiswa itu juga membandingkan dengan praktik di luar negeri, di mana dosen relatif memiliki beban administrasi lebih ringan dan dapat lebih fokus pada riset. “Di luar, satu atau dua penelitian dalam setahun sudah dianggap wajar, tapi kualitasnya dijaga. Di sini, tuntutannya jauh lebih banyak,” katanya.
Fenomena ini, menurutnya, berdampak pada daya saing publikasi ilmiah Indonesia di tingkat internasional. Ia menilai, keterbatasan waktu dan tekanan administratif menjadi salah satu faktor yang membuat banyak penelitian belum mampu menembus jurnal bereputasi global.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa tidak semua dosen melakukan praktik tersebut. Masih banyak akademisi yang tetap menjaga integritas penelitian meski di tengah tekanan sistem. Karena itu, ia mendorong adanya perbaikan struktural dalam tata kelola akademik, termasuk peninjauan ulang beban kerja dan sistem penilaian kinerja dosen.
“Kalau data saja sudah tidak jujur sejak awal, bagaimana kebijakan bisa dibuat dengan tepat?” ujarnya. Ia berharap, ke depan, dunia akademik dapat lebih menempatkan kejujuran ilmiah sebagai fondasi utama, bukan sekadar memenuhi target administratif.
Liputan ini tidak menyebutkan identitas narasumber maupun institusi terkait demi menjaga keamanan dan kenyamanan pihak yang bersangkutan. Namun demikian, temuan ini menjadi pengingat bahwa integritas akademik tetap menjadi isu krusial yang perlu mendapat perhatian serius di tengah tuntutan sistem yang kian kompleks.

