EKONOMI DAN BISNISHEADLINETERKINI

Head to Head Jawa Barat–NTB: Membaca Data Investasi, Pertumbuhan, dan Kemandirian Fiskal

Mataram, NARASIMEDIA.NET

Perbandingan kinerja antar daerah kerap menjadi bahan diskusi publik, terutama ketika dikaitkan dengan kepemimpinan dan arah kebijakan pembangunan. Komparasi data dalam artikel ini menyoroti capaian Provinsi Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan sejumlah indikator utama, mulai dari realisasi investasi, pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), angka kemiskinan, hingga tingkat ketergantungan fiskal terhadap pemerintah pusat.

Di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi, Jawa Barat mencatat nilai investasi sebesar Rp296,8 triliun atau 150 persen dari target. Sementara itu, NTB yang dipimpin Lalu Muhamad Iqbal  membukukan investasi Rp61,1 triliun atau 108 persen dari target. Secara nominal, selisihnya cukup besar, meski perlu dipahami bahwa Jawa Barat memiliki basis ekonomi dan populasi yang jauh lebih besar dibanding NTB.

Baca Juga : Menelisik Arah Industri Pariwisata di NTB, Bisnis Politik dan Produksi Ketimpangan

Pada indikator pertumbuhan ekonomi 2025, Jawa Barat tercatat tumbuh 5,2 persen, sedangkan NTB berada pada angka 3,2 persen. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh struktur ekonomi masing-masing daerah. Jawa Barat memiliki sektor industri manufaktur dan jasa yang relatif mapan, sementara NTB lebih bertumpu pada sektor pertambangan dan pariwisata yang cenderung fluktuatif.

Dari sisi pembangunan manusia, IPM Jawa Barat berada pada angka 75,90, sedangkan NTB 73,97. Selisih ini tidak terlalu lebar, namun tetap menunjukkan adanya perbedaan capaian kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup. Sementara itu, angka kemiskinan Jawa Barat tercatat 7,02 persen, lebih rendah dibanding NTB yang berada pada 11,38 persen.

Dalam konteks fiskal, ketergantungan terhadap transfer pusat juga berbeda. Jawa Barat memiliki porsi transfer sekitar 38 persen dari APBD, sedangkan NTB mencapai 54 persen. Data ini menunjukkan tingkat kemandirian fiskal Jawa Barat relatif lebih kuat, meskipun harus diimbangi dengan beban pelayanan publik terhadap jumlah penduduk yang jauh lebih besar.

Baca Juga : NTB Tumbuh 3,22 Persen, Ekonomi Masih Bertumpu pada Sektor Rentan

Perbandingan ini pada dasarnya menggambarkan dua karakteristik daerah yang berbeda, satu dengan basis industri besar dan ekonomi terdiversifikasi, dan satu lagi dengan ekonomi yang lebih bergantung pada sektor primer dan transfer fiskal. Oleh karena itu, membaca data secara utuh dan kontekstual menjadi penting agar perbandingan tidak terjebak pada simplifikasi angka semata. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *