HEADLINETERKINI

Dari Guru Agama Menjadi Nakhoda Kemenag Bima: Kisah Mujiburrahman Membangun Pendidikan dan Kehidupan Beragama di Bima

Bima, NARASIMEDIA.NET – Di antara banyak sosok yang lahir dari rahim tanah Bima, nama Mujiburrahman menjadi salah satu yang menorehkan kisah panjang tentang ketekunan, pendidikan, dan pengabdian. Lahir pada 3 Juli 1971, dari sosok ayah seorang Ulama H. M. Yasin Bin. H. Gani dan ibu yang agamais Hj. Fatimah Binti H. Marhaban, ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan religius yang menjadikan agama dan pendidikan sebagai tiang kehidupan. Ayahnya, yang juga disaat itu seorang guru agama , menjadi teladan utama dalam menanamkan nilai-nilai keislaman sejak usia dini.

Lingkungan religius di masa kecil membentuknya menjadi pribadi yang tenang, disiplin, dan berjiwa sosial. Ia tumbuh bukan untuk mencari penghormatan, melainkan untuk memberi manfaat. Dari rumah yang penuh kasih dan ajaran agama itu, Mujiburrahman belajar arti tanggung jawab, kesederhanaan, dan keikhlasan dalam berbuat.

Jalan Panjang Pendidikan

Perjalanan pendidikannya dimulai di SDN 10 Sila, tempat ia pertama kali mengenal huruf dan cita-cita. Lalu berlanjut ke Madrasah Tsanawiyah Sila (MTs), di mana kecintaannya pada ilmu agama mulai tumbuh. Di PGAN Bima, minatnya terhadap pendidikan Islam semakin menguat, hingga akhirnya ia menempuh pendidikan tinggi di IAIN Mataram dan meraih gelar sarjana di STAIM Bima, jurusan Tarbiyah.

Bagi Mujiburrahman, belajar bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan hidup. “Ilmu adalah cahaya. Dan siapa pun yang memegangnya, ia wajib menyalakannya untuk orang lain,” ujarnya suatu ketika kepada para muridnya.

Mengabdi Lewat Pendidikan

Lulus dari perguruan tinggi, Mujiburrahman muda langsung terjun ke dunia pendidikan sebagai guru agama di MIN 1 Ngali (kini MIN 1 Bima). Dalam ruang kelas sederhana, ia bukan sekadar mengajar, tapi membangun karakter. Ketekunan dan dedikasinya membuatnya dipercaya sebagai Kepala Madrasah pada tahun 2002.

Selama tujuh tahun memimpin, ia menanamkan kultur disiplin dan integritas. Banyak muridnya kemudian tumbuh menjadi pendidik, dai, dan pemimpin lokal buah dari keteladanan yang ia tanamkan dalam diam.

Dari Guru ke Pengayom

Tahun 2009 menjadi babak baru. Ia diangkat sebagai Pengawas Sekolah di Kementerian Agama Kabupaten Bima,. memperluas pengabdian dari satu madrasah ke puluhan lembaga pendidikan. Di tahun yang sama, ia juga dipercaya sebagai Kepala Seksi Urais (Bimas Islam), kemudian bergantian memegang amanah sebagai Kasi PHU, Kasi PAI, dan Kasi Bimas Islam hingga 2020.

Langkahnya tak pernah berhenti. Dari setiap jabatan yang diemban, satu prinsip tak berubah, yaitu pelayanan kepada umat adalah bentuk tertinggi dari ibadah.

Menakhodai Kementerian Agama Bima

Tahun 2023, kepercayaan besar kembali datang. Mujiburrahman resmi dilantik sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bima. Sebuah tanggung jawab yang tak kecil, namun ia hadapi dengan ketenangan khas seorang guru yang sudah kenyang pengalaman.

Kini, di bawah kepemimpinannya, Kemenag Bima perlahan membangun wajah baruyang lebih terbuka, melayani, dan berorientasi pada kebutuhan umat. Ia memaknai jabatan bukan sebagai kehormatan pribadi, melainkan amanah untuk memberi manfaat seluas-luasnya.

“Pemimpin bukan yang paling tinggi kedudukannya, tapi yang paling banyak berbuat baik,” ucapnya dalam satu kesempatan, mencerminkan filosofi hidup yang ia pegang teguh.

Keteladanan yang Menginspirasi

Mujiburrahman dikenal luas sebagai sosok yang rendah hati, santun dalam tutur, dan bijak dalam mengambil keputusan. Ia tidak banyak bicara, tapi tindakannya selalu lebih nyaring dari kata-kata. Dalam setiap kebijakan, ia berusaha menghadirkan keseimbangan antara nilai agama dan kebutuhan masyarakat.

Bagi rekan-rekannya, ia adalah pemimpin yang bisa diajak berdialog dan mendengarkan. Bagi bawahannya, ia adalah guru yang sabar. Dan bagi masyarakat, ia adalah sosok yang menenangkan, menebar kesejukan di tengah perbedaan.

Dari ruang kelas sederhana hingga kursi pimpinan kantor kementerian, perjalanan Mujiburrahman adalah bukti bahwa pengabdian tak mengenal batas. Ia memulai karier sebagai pengajar, lalu tumbuh menjadi pengayom dan kini menjadi nakhoda yang menuntun arah pelayanan umat di Kabupaten Bima.

Dengan integritas dan keikhlasan, ia terus menulis kisahnya bukan untuk dikenang, tapi untuk diteladani. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *