Program Riset Mahasiswa Rp1,9 T Dapat Apresiasi dan Catatan dari KAMMI
MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mengapresiasi kebijakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang mengalokasikan dana Rp1,9 triliun untuk mendukung riset Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di seluruh Indonesia. Namun, KAMMI juga memberikan catatan kritis agar program tersebut tidak mengikis ruang demokrasi di kampus.
Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI, Nazmul Watan, M.Sc., menilai kebijakan yang diinisiasi Menristekdikti Prof. Brian itu merupakan terobosan penting. Ia menyebut keterlibatan BEM dalam penelitian dapat memperkuat ekosistem kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri, sejalan dengan paradigma triple helix.
Baca Juga :
“Riset adalah napas kemajuan peradaban. Ketika mahasiswa diberi ruang, kepercayaan, dan dukungan sumber daya, gagasan mereka bisa menjelma menjadi solusi konkret menjawab tantangan zaman,” ujar Nazmul di Jakarta, Selasa (12/8).
Menurutnya, pergeseran daya kritis mahasiswa ke arah riset dan inovasi merupakan langkah strategis. Kritik berbasis data dan penelitian, kata Nazmul, memiliki peluang lebih besar untuk diadopsi sebagai kebijakan publik.
Meski demikian, Nazmul menanggapi keras pernyataan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV, Lukman, yang menyebut dana riset BEM lebih berguna daripada aksi demonstrasi. Ia menegaskan bahwa unjuk rasa merupakan bagian dari tradisi akademik yang perlu dijaga.
Baca Juga : RPJMD NTB 2025–2029 Resmi Disahkan
“Demonstrasi bukan sekadar kritik kosong, melainkan refleksi tanggung jawab moral mahasiswa. Pemberian dana besar seharusnya tidak menjadi alasan membungkam ruang demokrasi,” tegas Nazmul.
KAMMI mendesak pemerintah dan institusi pendidikan memberikan ruang seimbang bagi inovasi sekaligus kebebasan berpendapat secara damai. Organisasi tersebut juga menyatakan siap menjadi mitra strategis untuk mengawal program ini agar berjalan optimal.
Baca Juga : Temuan Dugaan Pengerjaan Fiktif Rp 1,2 Miliar di Proyek Jalan NTB Tenggelam, Proses Penyidikan Mogok
“Ini bukan hanya soal angka Rp1,9 triliun, tetapi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.

