‘Krisis di Gaza, Sikap Kita di Mana?’ KAMMI NTB Dorong Semua Kalangan Ambil Sikap dan Aksi Nyata Bela Palestina
MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Di tengah hiruk-pikuk isu lokal dan derasnya arus informasi digital, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap isu global, khususnya krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Palestina. Dalam pernyataan sikap terbarunya, KAMMI NTB menegaskan bahwa kepedulian terhadap Palestina tidak boleh dipandang sebagai isu agama semata, melainkan sebagai panggilan nurani seluruh umat manusia.
Ketua Umum KAMMI NTB, Irwan, menyebutkan bahwa tragedi yang terjadi di Gaza merupakan salah satu bentuk krisis kemanusiaan paling brutal di abad ini. Ia menekankan perlunya respon dari semua elemen masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap tragedi tersebut.
“Kita hidup di era digital, di mana tragedi kemanusiaan bisa kita saksikan langsung melalui ponsel. Maka jangan berpura-pura tidak tahu. Genosida di Gaza adalah realitas yang membutuhkan aksi nyata. Peduli Palestina berarti peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri,” tegas Irwan.
Mengacu pada laporan terbaru per April 2025, lebih dari 50.800 warga Palestina telah gugur, mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan. Situasi semakin memburuk dengan adanya blokade total yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan, air bersih, dan pasokan listrik (sumber: El País, 9 April 2025).
Yudis, Kepala Bidang Kebijakan Publik KAMMI NTB, juga mengingatkan bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan seharusnya tidak kehilangan empati terhadap isu-isu kemanusiaan global. Menurutnya, kepedulian terhadap Palestina merupakan bagian dari perjuangan menegakkan keadilan universal.
“kalau kita bisa gerak untuk isu-isu di kampus seperti UKT dan kebijakan lain, kenapa tidak dengan isu Palestina,” ujar Yudis.
KAMMI NTB juga menyoroti minimnya atensi sebagian masyarakat terhadap isu Palestina. Padahal, menurut mereka, Indonesia secara tegas dalam konstitusinya menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia. Oleh karena itu, KAMMI NTB menyerukan tiga ajakannya :
- Kampus-kampus di NTB didorong untuk membuka ruang edukasi dan diskusi mengenai konflik Palestina.
- Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat diminta menyuarakan solidaritas secara terbuka dan resmi.
- Generasi muda diajak bergabung dalam gerakan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan entitas yang mendukung penjajahan di Palestina.
Menutup pernyataannya, Irwan menegaskan bahwa bentuk kepedulian bisa dimulai dari tindakan kecil namun bermakna, seperti ikut serta dalam edukasi publik, menyebarkan informasi yang valid, atau berpartisipasi dalam gerakan boikot.
“Peduli Palestina tidak harus turun ke jalan. Bisa dimulai dari ikut edukasi, mendukung boikot, atau sekadar menyebarkan informasi yang benar. Jangan biarkan algoritma media sosial membuat kita mati rasa,” tutup Irwan.
(RED)

