Menghadapi Tarif Timbal Balik Trump, Rupiah Terancam Kian Melemah
JAKARTA, NARASIMEDIA.NET — Kebijakan tarif timbal balik atau reciprocal tariff yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpotensi semakin menekan nilai tukar rupiah. Saat ini, rupiah telah menembus angka Rp17.000 per dolar AS, menandakan adanya potensi tekanan lebih lanjut pada mata uang Indonesia.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengungkapkan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menguatkan rupiah. Salah satu langkah yang dianggap penting adalah mempercepat proses realokasi anggaran agar perputaran ekonomi dalam negeri bisa meningkat. Selain itu, komunikasi yang jelas dengan masyarakat dan pasar keuangan mengenai langkah-langkah konkret yang akan diambil juga sangat diperlukan.
Fakhrul menekankan pentingnya menurunkan ketergantungan Indonesia terhadap ekonomi global dalam waktu cepat. Isu-isu seperti ketahanan pangan, energi, dan kesehatan, menurutnya, harus menjadi prioritas utama pemerintah, terlebih dengan meningkatnya ketegangan dalam perang dagang global.
Menanggapi kebijakan tarif bea masuk yang naik dari 10% menjadi 32% oleh AS, Fakhrul mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan balasan. Ia menjelaskan bahwa pemerintahan Trump menggunakan pendekatan Carrot and Stick, dengan penetapan tarif sebagai langkah awal yang diikuti oleh negosiasi bilateral antar negara.
“Negosiasi bilateral antar negara terkait perdagangan adalah hal yang selanjutnya akan dilakukan,” kata Fakhrul, dikutip senin (7/4/2025). Dalam pandangannya, pelemahan ekonomi domestik dan nilai tukar rupiah yang saat ini terjadi adalah fenomena yang wajar, mengingat adanya risiko overshoot atau pelemahan yang cepat dalam jangka waktu pendek. Namun, peran Bank Indonesia (BI) dan pemerintah menjadi kunci dalam mengelola kondisi ini dan menjaga agar rupiah kembali menguat ke arah keseimbangan yang baru.
Dalam hal ini, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah akan melemah lebih jauh, dengan kemungkinan mencapai level Rp16.900 per dolar AS dalam waktu dekat, bahkan berpotensi menembus angka Rp17.000.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan bahwa pemerintah bersama Bank Indonesia terus bekerja menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan likuiditas valas tetap terjaga. Hal ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan dunia usaha serta menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Sebagai informasi, kebijakan tarif yang diterapkan oleh Trump akan berdampak pada seluruh mitra dagang AS, termasuk negara-negara dalam kategori miskin atau least developed countries (LDCs). Negara-negara yang dinilai memiliki hambatan perdagangan tinggi terhadap produk AS akan dikenakan tarif lebih besar. Produk Indonesia sendiri kini dikenakan tarif timbal balik sebesar 32%, lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yang hanya 10%, bahkan beberapa barang konsumsi yang sebelumnya bebas bea masuk kini terpengaruh karena Indonesia tidak lagi menikmati fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dari pemerintah AS.
(RED)

