HAPPENINGHEADLINETERKINI

Mengenal Steroid: Rahasia Para Atlet Binaraga untuk Menjadi Super Human

MATARAM, NARASIMEDIA.NET

Steroid Anabolik merupakan senyawa sintetis yang digunakan dalam dunia olahraga, khususnya oleh atlet binaraga, untuk meningkatkan massa otot dan performa fisik. Penggunaan steroid dalam dunia binaraga telah menjadi topik kontroversial, antara manfaatnya yang dapat memberikan keunggulan fisik secara signifikan, juga dampak negatifnya yang mematikan (Llewellyn, 2017). Pengguna steroids kerap kali diistilahkan sebagai Enhanced Athlete atau PED (Performance Enhancing Drugs) User.

Artikel ini akan membahas mekanisme kerja steroid, jenis-jenisnya, manfaat, risiko, hingga sejumlah federasi dunia yang tidak melakukan tes doping bagi para atlitnya.

Mekanisme Kerja Steroid dalam Tubuh

Steroid anabolik bekerja dengan cara meningkatkan sintesis protein dalam sel otot, sehingga mempercepat pertumbuhan jaringan otot. Steroid adalah turunan dari hormon testosteron yang bertanggung jawab atas perkembangan karakteristik maskulin pada pria (Kicman, 2008). Ketika steroid dikonsumsi dalam bentuk suntikan maupun pil, reseptor androgen dalam tubuh akan mengikat molekul steroid dan mengaktifkan ekspresi gen yang merangsang pertumbuhan otot serta meningkatkan kekuatan fisik (Pope et al., 2013).

Jenis-Jenis Steroid yang Digunakan dalam Binaraga

Steroid anabolik yang umum digunakan oleh binaragawan dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Testosteron – pada dasarnya Hormon ini diproduksi secara alami oleh tubuh pria, namun secara natural produksinya terbatas dan maksimal di angka 300–1.000 ng/dL (10–35 nmol/L), untuk mencapai di atas angka tersebut, para athlit menambahnya dengan senyawa serupa dalam bentuk buatan atau sintetis untuk memberikan manfaat yang dibutuhkan seorang atlit. (Nieschlag & Behre, 2012).
  2. Dianabol (Methandrostenolone) – Salah satu steroid pertama yang dikembangkan untuk meningkatkan massa otot dengan cepat, memberikan tampilan ful dan keras pada otot (Yesalis & Bahrke, 2002).
  3. Trenbolone – Meningkatkan sintesis protein dan retensi nitrogen, serta dikenal memiliki efek androgenik tinggi, dengan menggunakan ini, user dari compound ini akan memiliki kondisi otot yang ekstrim, kering, keras dengan kondisi otot yang terlihat padat dan full. (Hartgens & Kuipers, 2004). umumnya digunakan athlit binaraga satu bulan sebelum berkompetisi.
  4. Anadrol (Oxymetholone) – Digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan volume otot dalam waktu singkat (Llewellyn, 2017).
  5. Winstrol (Stanozolol) – Steroid yang membantu dalam mengikis lemak sekaligus mempertahankan massa otot (Kuhn, 2002).

Beberapa jenis lain seperti primabolan dan masih banyak farietas baru lainnya.

Perbedaan Atlet Pengguna Steroids (Enhanced) dan Natural (Natty)

perbedaan Enhanced (pengguna Steroids) dan Athlit Natty (natural)

Gambaran Fisuan atlit dan jenis steroids yang digunakan. ( link video pada tulisan biru di samping )

Manfaat Steroid bagi Atlet Binaraga

Steroid anabolik memberikan berbagai manfaat bagi atlet binaraga, antara lain:

  1. Peningkatan Massa Otot: Dengan merangsang sintesis protein, otot tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan latihan alami (Kicman, 2008).
  2. Peningkatan Daya Tahan dan Kekuatan: Steroid membantu meningkatkan produksi sel darah merah, sehingga meningkatkan pasokan oksigen ke otot (Pope et al., 2013).
  3. Pemulihan otot yang Lebih Cepat: Steroid mempercepat pemulihan otot setelah latihan intensif, sehingga atlet dapat berlatih lebih sering dengan risiko cedera yang lebih rendah (Yesalis & Bahrke, 2002).

Risiko dan Efek Samping Penggunaan Steroid

Meskipun memberikan manfaat secara fisual, penggunaan steroid juga memiliki berbagai risiko kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa efek samping yang umum terjadi meliputi:

  1. Gangguan Hormonal: Penggunaan steroid dapat menyebabkan penekanan produksi testosteron alami, yang dapat berujung pada atrofi testis dan ginekomastia (Llewellyn, 2017).
  2. Masalah Kardiovaskular: Peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan penurunan kolesterol baik (HDL) meningkatkan risiko penyakit jantung (Hartgens & Kuipers, 2004).
  3. Gangguan Psikologis: Steroid dapat menyebabkan perubahan suasana hati, agresi yang berlebihan (roid rage), dan depresi (Pope et al., 2013).
  4. Kerusakan Organ Dalam: Steroid oral dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius, sedangkan steroid injeksi berisiko menyebabkan infeksi dan abses (Kuhn, 2002).

Statement Terbuka Athlit Binaraga Dunia Terkait Penggunaan Steroid

Arnold Schwarzenegger: Sebagai salah satu ikon binaraga dunia, Arnold Schwarzenegger telah mengakui penggunaan steroid anabolik selama karir kompetitifnya pada era 1970-an. Ia menyatakan bahwa pada masa itu, penggunaan steroid tidak diatur seketat sekarang dan banyak atlet yang menggunakannya untuk mencapai puncak performa. Tonton ini : (Arnold openly about steroid use)

Dorian Yates: dalam wawancara dengan valuetainment, Yates mengatakan jika anda tidak menggunakan steroids ketika kompetisi, anda akan rugi besar “It’s part of the game. If you’re gonna compete without steroids, you will receive a big disadvantage.” pungkasnya.

Ronnie Coleman: Delapan kali juara Mr. Olympia ini juga telah mengakui penggunaan steroid anabolik selama karirnya. Coleman menyatakan bahwa penggunaan steroid adalah bagian dari olahraga binaraga profesional, namun ia selalu memastikan untuk menggunakan di bawah pengawasan medis.

Legalitas dan Regulasi Penggunaan Steroid

Banyak negara telah mengatur penggunaan steroid anabolik karena efek sampingnya yang berbahaya. Di Amerika Serikat, penggunaan tanpa resep dokter dianggap ilegal berdasarkan Controlled Substances Act (Yesalis & Bahrke, 2002). Di Indonesia, steroid juga termasuk dalam kategori obat keras yang penggunaannya diawasi ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Federasi olahraga internasional seperti WADA (World Anti-Doping Agency) juga melarang penggunaan steroid dalam kompetisi resmi (Llewellyn, 2017).

Beberapa Federasi Dunia Yang Tidak Melakukan Test Doping

Saat ini banyak kejuaraan binaraga yang sifatnya ‘open’ dan tidak di bawah pengawasan WADA (World Anti-Doping Agency). Sehingga, tidak menerapkan tes doping saat menggelar kejuaraan. sebab, selain tes doping akan merogok kocek lebih banyak, tingkat entertain athlet enhanced (menggunakan steroids) lebih tinggi dan lebih menguntungkan industri, di mana manfaatnya akan menaikkan permintaan segala produk yang berkaitan tentang dunia kebugaran dan tentu menjanjikan keuntungan jutaan bahkan miliaran dolar bagi pelaku industrinya, dibanding brand ambasador atau atlitnya yang berbadan natural (atlit tanmpa doping Androgenic Anabolic Steroids).

Beberapa penyelenggara yang tidak mempersoalkan penggunaan steroids diantaranya IFBB (International Fitness and Bodybuilding Federation), yang dimana membawahi kejuaraan dari Mr. Olympia, Arnold Classic, penyelenggaraan Pro Qualification untuk mencari athlit IFBB Profesional (IFBB Pro) baru, serta event-event berskala regional (regional show), seperti EIC (Evolen Indonesiao Championchip), Fitlife Open Championship (FOC) yang saat ini menjadi tujuan para atlit-atlit junior di Indonesia untuk memulai debut di IFBB.

Michael Tan pegiat binaraga yang juga aktif di binaragaindonesia.com, mengatakan, ajang FOC bebas tidak ada larangan konsumsi suplemen dan tanpa tes doping.

Michael mengatakan, banyak kejuaraan yang digelar tanpa tes doping, “Karena biaya yang digunakan untuk tes sangat mahal. Satu orang saja bisa sampai Rp 8 juta, lebih baik uang tersebut untuk hadiah peserta”. Pungkasnya.

Penulis : Febrian

Referensi

  1. Hartgens, F., & Kuipers, H. (2004). Effects of Androgenic-Anabolic Steroids in Athletes. Sports Medicine, 34(8), 513-554.
  2. Kicman, A. T. (2008). Pharmacology of Anabolic Steroids. British Journal of Pharmacology, 154(3), 502-521.
  3. Kuhn, C. M. (2002). Anabolic Steroids. Endocrine Reviews, 23(2), 135-175.
  4. Llewellyn, W. (2017). Anabolics. Molecular Nutrition.
  5. Nieschlag, E., & Behre, H. M. (2012). Testosterone: Action, Deficiency, Substitution. Cambridge University Press.
  6. Pope, H. G., Wood, R. I., Rogol, A., Nyberg, F., Bowers, L., & Bhasin, S. (2013). Adverse Health Consequences of Performance-Enhancing Drugs: An Endocrine Society Scientific Statement. Endocrine Reviews, 35(3), 341-375.
  7. Yesalis, C. E., & Bahrke, M. S. (2002). History of Anabolic-Androgenic Steroids. Endocrinology and Metabolism Clinics of North America, 31(2), 199-213.
  8. https://youtu.be/pTBIR4kzamY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *