HEADLINEOPINIPENDIDIKANTERKINI

Pendidikan yang Berpihak pada Guru

Oleh : Muhammad Anhar (Alumni Pascasarjana Universitas Mataram)

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Pendidikan menjadi salah satu pilar utama dalam membangun sebuah bangsa. Melalui pendidikan, manusia-manusia dididik dan dipupuk agar tumbuh menuju keparipurnaan. Sehingga, ketika kualitas pendidikan suatu bangsa itu baik, maka akan baik pula kualitas manusianya.

Dalam perjalanan menuju pendidikan yang maju dan berkualitas, seringkali peran pemerintah melalui kebijakannya dianggap paling krusial dan menentukan. Padahal, pos-pos lain juga memiliki andil besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya adalah pos yang diisi oleh guru. Acap kali perhatian dalam dunia pendidikan lebih banyak difokuskan pada kurikulum, infrastruktur, dan peserta didik, sementara eksistensi guru seringkali terlupakan, bahkan pada Kurikulum Merdeka yang sudah berjalan 2 tahunan ini, tagline yang dikampanyekan tidak hanya Merdeka Belajar, tetapi juga Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik. Hal itu membuat semua hal yang dilakukan berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan, semuanya harus mementingkan dan mengutamakan peserta didik mulai dari pembetukkan pengetahuan hingga karakternya.

BACA JUGA : KEMISKINAN  : TANTANGAN BAGI PARA PEMIMPIN MASA DEPAN

Sementara posisi guru tetap saja stagnan dengan beban kerja yang dimilikinya seperti mengajar, mengurus administrasi, belum lagi jika diberi tanggung jawab berupa jabatan struktural tertentu. Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) pada tahun 2022, dilaporkan bahwa guru menghabiskan lebih dari 40 jam dalam seminggu untuk mengajar dan mengurus tugas-tugas administratif.

Beban kerja ini menyebabkan guru di Indonesia merasa stress dan burnout (kelelahan) yang muaranya adalah mempengaruhi kualitas pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, jika ingin memiliki pendidikan yang optimal, penting rasanya untuk juga memikirkan apakah pendidikan hari ini sudah berpihak pada guru atau tidak.

Konsep pendidikan yang berpihak pada guru ini berfokus pada pemberian dukungan yang lebih besar kepada para guru, baik dari sisi kesejahteraan, profesionalisme, maupun kebijakan yang memudahkan mereka untuk menjalankan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Pendidikan yang berpihak pada guru tidak hanya berdampak pada guru itu sendiri, tetapi juga pada siswa, orang tua, serta masyarakat secara keseluruhan.

BEBAN KERJA GURU

Dalam Permendikbudristek Nomor 25, Tahun 2024 tentang pemenuhan beban kerja guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah, pada pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Kesemua tugas utama ini difokuskan kepada aktifitas yang membantu peserta didik dan lebih lanjut pada pasal 4 ayat 3 guru dituntut untuk paling sedikit mengajar sebanyak 24 jam setiap minggunya, kemudian paling banyak 40 jam.

BACA JUGAPropaganda Media Pada Pilkada 2024

Selain tugas utama tersebut, guru juga dibarengi dengan tugas administratif seperti merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, serta melakukan pengkajian terhadap kurikulum yang berlaku. Selanjutnya pada pasal 6 peraturan menteri yang disebutkan di atas, guru juga dimandatkan tugas tambahan seperti menjadi wali kelas, pembina OSIS, Pembina ekstrakurikuler, guru piket, tim kerja pengelolaan kinerja guru, pengurus organisasi profesi guru, tutor, koordinator P5, dan tugas tambahan lainnya yang setara dengan 12 jam tatap muka setiap minggunya.

Disamping tugas utama dan tambahan yang tercantum di dalam peraturan ini, terdapat banyak lagi tugas-tugas yang mesti dilaksanakan oleh guru di lapangan. Hal inilah yang kemudian menumbuhkan bibit stres dan kelelahan pada guru dan mempengaruhi performanya dalam menjalankan tugas utama di kelas. Beban kerja ini mestilah menjadi pertimbangan untuk dikaji kembali agar guru tidak seperti sapi perah yang diambil tenaga dan pikirannya untuk melaksanakan tugas yang tidak sedikit.

Paulo Freire dalam karyanya Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan bagi Kaum Tertindas) telah menyampaikan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu mengubah dunia, dan guru adalah penggeraknya. Lalu, jika dikondisikan dengan keadaan saat ini, bagaimana bisa guru menjadi penggerak ketika mesinnya (pikiran) dipreteli dengan pikiran di luar tugas utamanya, rodanya (kakinya) diikat dengan tugas yang beranak-pinak? Guru memiliki peran yang sangat strategis dalam sistem pendidikan. Mereka tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing, mendidik, dan membentuk karakter generasi penerus.

Guru adalah figur yang dapat memotivasi siswa untuk terus belajar, mengatasi tantangan, dan mengembangkan potensi terbaik mereka. Sebagai pendidik, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami dunia, memecahkan masalah, dan mengembangkan keterampilan kritis yang akan berguna sepanjang hidup mereka.

KESEJAHTERAN GURU

Salah satu aspek yang juga sering terlupakan dalam alam pendidikan kita adalah kesejahteraan guru. Kesejahteraan di sini tidak hanya ditafsirkan sebagai masalah finansial, meskipun gaji yang layak merupakan hal yang sangat penting, tetapi juga mencakup aspek emosional, profesional, dan fisik. Untuk menjadi seorang guru yang baik, seorang pendidik memerlukan waktu yang cukup untuk mempersiapkan materi ajar, melakukan evaluasi, serta memberi perhatian pribadi kepada siswa.

BACA JUGAMuda Dalam Definisi Politik

Dalam konteks finansial, data menunjukkan bahwa banyak negara yang masih menghadapi tantangan dalam memastikan kesejahteraan guru. Berdasarkan laporan Education at a Glance 2020, gaji guru di negara berkembang masih jauh di bawah rata-rata pendapatan per kapita. Di Indonesia sendiri, meskipun ada peningkatan dalam hal gaji dan tunjangan untuk guru, namun dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, gaji guru Indonesia masih tergolong rendah. Sebagai contoh, gaji pokok seorang guru di Indonesia pada tahun 2020 berkisar antara 2.5 juta hingga 4 juta per bulan, jauh jika dibandingkan Thailand dan Malaysia yang gaji pokok gurunya berkisar antara 6,6 juta hingga 16,5 juta perbulan.

Kesejahteraan secara finansial ini perlu menjadi pertimbangan karena ikut mempengaruhi efektivitas guru dalam melaksanakan tugasnya. Bagi John Hattie, kesejahteraan guru adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru dalam mengajar. Semakin baik mereka disejahterakan, maka mereka akan semakin merasa dihargai dan diperhatikan.

Selain aspek finansial tersebut, penelitian terbaru dari International Labour Organization (ILO) pada 2023 mengungkapkan bahwa kesejahteraan mental guru juga mempengaruhi kualitas pendidikan secara signifikan. ILO melaporkan bahwa 40% guru di seluruh dunia memiliki tingkat stres yang tinggi akibat beban kerja yang berlebihan dan kurangnya dukungan profesional. Stres yang berlebihan ini sering kali mengarah pada burnout, yang membuat guru menjadi kurang efektif dalam mengajar dan mempengaruhi hubungan mereka dengan siswa.

Oleh karenanya, pemerintah dan masyarakat perlu memastikan bahwa selain memperoleh kesejahteraan secara finansial, mereka juga diberikan dukungan kesehatan mental dan fisik yang memadai.

PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU

Pendidikan yang berpihak pada guru juga harus mencakup pengembangan profesionalisme mereka. Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang pesat, sehingga para guru perlu terus mengembangkan kompetensinya agar dapat mengikuti perkembangan tersebut. Namun, pengembangan ini tidak hanya terbatas pada peningkatan pengetahuan tentang mata pelajaran yang diajarkan, tetapi juga mencakup keterampilan pedagogik, manajerial, dan teknologi pendidikan.

BACA JUGA : Indonesia Diambang Krisis Demokrasi, Ancaman Kehancuran Didepan Kita

Pemerintah harus menyediakan kesempatan yang luas bagi para guru untuk mengikuti pelatihan, kursus, seminar, atau lokakarya yang dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam mengajar. Selain itu, akses terhadap sumber daya pendidikan yang terbaru dan relevan, seperti perangkat teknologi, buku referensi, atau materi ajar yang inovatif, juga sangat penting. Dengan terus mengembangkan profesionalisme mereka, guru akan lebih mampu menghadapi tantangan yang ada di ruang kelas dan memberikan pendidikan yang berkualitas kepada siswa.

Ken Robinson, pakar pendidikan berkebangsaan inggris, dalam karyanya The Element mengungkapkan bahwa guru adalah kunci untuk membuka setiap potensi yang dimiliki peserta didik, oleh karenanya mereka harus terus belajar dan berkembang. Pendidikan yang berkualitas harus dimulai dengan memfasilitasi pengembangan karir para guru, melalui pelatihan dan kesempatan belajar berkelanjutan. Ini adalah landasan utama untuk menciptakan proses belajar yang dinamis dan relevan bagi siswa.

Pendidikan harus terus menjadi garda terdepan dalam memberi napas panjang bagi keberlangsungan hidup sebuah bangsa. Guru mestilah menjadi mesin dan roda yang kokoh untuk membawa pendidikan menuju titik optimalnya. Sistem pendidikan yang berpihak pada guru tidak hanya akan meningkatkan kualitas pengajaran, tetapi juga akan berkontribusi pada pembangunan bangsa secara keseluruhan.

Guru yang sejahtera, dihargai, dan diberdayakan akan mampu menciptakan generasi penerus yang cerdas, kreatif, dan berkarakter, yang pada akhirnya akan membawa negara ke arah kemajuan yang lebih baik. Untuk itu, sudah saatnya kita bersama-sama memperjuangkan pendidikan yang berpihak pada guru, sebagai wujud apresiasi terhadap dedikasi mereka yang tak ternilai bagi masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *