BUDAYA DAN PARIWISATAHAPPENINGHEADLINENTBTERKINI

Dalam Dekapan Besari

// Foto : Ekspeditor dan Akademisi M. ARIS Firdaus, di Lokasi Desa Besari.

NARASIMEDIA.NET || Besari. Sebuah nama perkampungan yang dilegendakan masyarakat khususnya di Dusun Karta Raharja Desa Genggelang Kabupaten Lombok Utara menghilangkan diri dari dunia nyata dan hidup dalam dekapan abadi alam semesta.

Legenda inilah yang mengantarkan penulis untuk melakukan ekspedisi langsung di lokasi yang diyakini sebagai lokasi kampung Basari yang dulunya merupakan bagian dari Kedatuan Gangga.

Lokasi Desa Besari

Legenda sendiri memiliki definisi sebagai cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah mengenai asal usul suatu tempat yang dibumbui dengan keajaiban, kesaktian, dan keistimewaan tokohnya. Legenda dianggap oleh pemilik cerita sebagai suatu kejadian asli dan pernah benar-benar terjadi.

Bersama Tokoh adat setempat, Amiq Khalid dan beberapa warga, perjalanan di mulai dari Museum Desa Genggelang menuju parkiran kompleks Air Terjun Kerta Gangga menggunakan motor. Perjalanan kemudian harus dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri persawahan dan sungai selama 20 menitan menuju lokasi Kampung Besari.

Tokoh Adat, Amiq Khalid

Sesampainya di lokasi, penulis langsung ditunjukkan area Masjid kampung Besari. Diceritakan oleh Amiq Khalid, bahwa masjid ini dulunya bernama Al Basari. Karena sudah lama tidak dibersihkan dari rerumputan, sebenarnya bebatuan sisa-sisa pondasi masjid masih bisa ditemui di lokasi. Masjid ini adalah salah satu sisa Kampung Besari yang hilang.

Sambil menikmati suasana dan aura kehidupan di area kampung Besari, penulis diceritakan oleh Amiq Khalid bahwa Kampung Besari dulunya di pimpin oleh Datu yang merupakan keturunan dari Kedatuan Gangga.

Al kisah Datu Gangga memiliki seorang putri yang menikah dengan seorang putra dari Kerajaan Majapahit. Dari pernikahan tersebut lahirlah anak yang kelak menjadi Datu di Kedatuan Besari ini. Tetapi pada saat lahiran, anehnya anak ini lahir tanpa tangan dan kaki atau tidak sempurna.

Karena hal itu, Putri Datu Gangga bersama suaminya dan satu dayang-dayang yang mengurus anak putri Datu Gangga pergi menghilang dari Istana Kedatuan Gangga. Dengan berjalan menyusuri hutan dan sungai, mereka akhirnya sampai di daerah yang sekarang dipercaya sebagai kampung Besari yang hilang tersebut, tetapi dulu tempat itu bernama lembah gunung Murmah.

Setelah hidup bertahun-tahun di lokasi tersebut dan membuat gubuk sederhana, terjadilah keajaiban yang merupakan rahasia dari sang pencipta, dimana di suatu hari, anak yang dulunya tidak memiliki tangan dan kaki tersebut, akhirnya berubah menjadi anak lelaki yang tampan dan sempurna.

Bukan tidak ada usaha. Setelah mengetahui anak, mantu dan cucunya hilang, Datu Gangga terus mencari keberadaan mereka bertahun-tahun lamanya. Hingga pada suatu malam, Datu Gangga melihat cahaya biru dari kejauhan dari istana yang memancar di langit. Datu Gangga kemudian memerintahkan prajuritnya untuk memeriksa dimana sumber cahaya itu berasal. Prajurit yang berhasil menemukan lokasi tersebut mengabarkan ke pada Datu Gangga bahwa cahaya biru itu bersumber dari gubuk, dimana anak, mantu, dan cucunya tinggal mengasingkan diri selama ini.

Karena rasa syukurnya yang begitu besar Dari Datu Gangga yang telah menemukan keluarganya yang hilang. Datu Gangga kemudian menggelar acara syukuran yang begitu mewah untuk menyambut keluarganya tersebut.

Pada acara penyambutan tersebut juga, cucu Datu Gangga itu kemudian dinobatkan sebagai Datu Besari dengan gelar Datu Kamaliah Sanggaji Jagat dan mengemban tugas mendirikan Kedatuan Besari. Setelah dirintis, kedatuan ini berkembang menjadi daerah yang subur dan maju. Masyarakatnya hidup dengan mata pencaharian melalui pertanian dan aman tentram.

Menghilangnya Kedatuan Besari ini kemudian berawal dari kedatangan Kerajaan Karangasem Bali 1740 M atau akhir Abad 17 ke Lombok Utara. Kedatuan Besari yang hidup dengan tenang ini kemudian mendengar kabar bahwa mereka juga akan diserang dan dijajah seperti Kedatuan atau kerajaan lain di Pulau Lombok.

Karena kebijaksanaan Datu Besari yang tidak mau berperang dan saling membunuh sesama manusia. Datu Besari kemudian bersepakat bersama masyarakat Besari untuk menghilangkan diri. Seluruh area kampung Kedatuan Besari kemudian di percikan air yang telah didoakan. Atas kuasa yang Maha Kuasa, kampung Besari akhirnya hilang dan berubah menjadi Hutan belantara, hanya menyisakan Masjid dan dua orang prajurit yang berjaga di perbatasan. Dua orang prajurit inilah yang kemudian bertugas mewariskan cerita kehidupan yang pernah ada di Besari.

Tanda-tanda kehidupan di Kampung Besari tidak hanya bisa di dengar dari cerita-cerita asal usul mereka menghilang. Kampung Besari masih menampakkan kehidupannya melalui kejadian-kejadian aneh yang dialami oleh orang-orang tertentu yang diberikan kesempatan melihat Besari. Misalnya cerita dari pedagang sapu yang pernah masuk ke Alam perkampungan Besari untuk berjualan hingga cerita dari jamaah haji dari Lombok Tengah yang mengaku bertemu Jamaah Haji dari Besari.

Besari memang sudah hilang, tapi Besari akan terus hidup dalam dekapan alamnya sendiri. Terus mengembangkan peradabannya dalam dimensi yang berbeda. Penulis tidak bisa melupakan masa-masa dalam dekapan Besari meskipun hanya beberapa jam berada disana. Sebuah dekapan hangat yang harus terpaksa diakhiri, karena sore hari mulai tiba. Dekapan itu akan selalu penulis rindukan dan hanya tulisan ini yang bisa sedikit mengobati rindu akan Besari.

Penulis : Muhammad Aris Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *