NTBTERKINI

Marzukin Fahri Bawa Pengalaman Birokrasi dan Energi Anak Muda dalam Kontestasi Pilkades Goa

SUMBAWA BARAT, NARASIMEDIA.NET – Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Goa tahun ini diwarnai hadirnya figur muda dengan pengalaman pemerintahan. Marzukin Fahri, S.Sy, mencalonkan diri dengan membawa rekam jejak enam tahun sebagai Sekretaris Desa Goa sekaligus pengalaman organisasi dan dunia profesional.

Fahri, yang disebut sebagai calon kepala desa termuda dalam kontestasi tersebut, menempatkan penguatan ekonomi warga sebagai agenda utama. Pertanian, peternakan, pariwisata pantai, pengembangan UMKM hingga digitalisasi pelayanan desa menjadi sejumlah sektor yang ia tawarkan untuk mendorong Desa Goa lebih sejahtera dan mandiri.

Pengalaman Fahri tidak hanya dibangun dari aktivitas politik desa. Ia pernah aktif sebagai aktivis HMI dan dipercaya menjadi Ketua Senat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. Di dunia profesional, Fahri juga pernah bekerja sebagai HRD PT BISMA.

Sementara di pemerintahan desa, Fahri menjalankan tugas sebagai Sekretaris Desa Goa sejak 2020 hingga 2026. Pengalaman tersebut menjadi modal yang ia klaim penting untuk memahami mekanisme birokrasi, pengelolaan administrasi pemerintahan, perencanaan pembangunan serta kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

“Ini bukan tentang euforia sesaat. Ini tentang bagaimana membangun Desa Goa tercinta menuju yang lebih baik. Saya maju karena punya data, punya pengalaman di pemerintahan, dan punya energi anak muda untuk eksekusi,” kata Fahri.

Pilkades Goa tahun ini diikuti tujuh bakal calon dengan latar belakang yang beragam. Di antaranya terdapat mantan kepala desa, mantan anggota DPRD, mantan sekretaris desa serta pekerja perusahaan. Persaingan tersebut membuat kontestasi diprediksi berlangsung kompetitif karena masing-masing kandidat memiliki pengalaman dan basis sosial tersendiri.

Di tengah persaingan itu, Fahri menawarkan diferensiasi melalui kombinasi pengalaman birokrasi dan pendekatan pembangunan berbasis ekonomi kerakyatan.

Ia membawa visi “Mewujudkan Desa Goa yang Sejahtera, Mandiri, dan Berbasis Ekonomi Kerakyatan Melalui Pertanian, Peternakan, serta Pariwisata Pantai.”

Visi tersebut diterjemahkan ke dalam empat agenda utama.

Pertama, mendorong pertanian dan peternakan berbasis teknologi melalui penguatan sarana produksi, akses permodalan serta pendampingan. Pendekatan itu diarahkan agar sektor pertanian dan peternakan tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi tradisional, tetapi mampu memberikan nilai tambah dan membuka ruang bagi keterlibatan generasi muda.

Kedua, mengembangkan pariwisata pantai berbasis lingkungan. Fahri melihat potensi wisata sebagai ruang baru untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Ketiga, mendorong UMKM Desa Goa naik kelas. Produk lokal ditargetkan tidak berhenti pada pasar konvensional, tetapi dapat masuk ke ekosistem homestay, kafe kawasan wisata hingga marketplace digital.

Keempat, membangun tata kelola pemerintahan desa yang transparan dan responsif. Digitalisasi pelayanan, keterbukaan informasi anggaran dan penguatan kanal pengaduan masyarakat menjadi bagian dari agenda tersebut.

“Usia boleh muda, tetapi pengalaman dan komitmennya serius. Saya maju bukan untuk coba-coba. Enam tahun menjadi Sekdes mengajarkan saya bahwa desa ini membutuhkan pemimpin yang memahami sistem sekaligus berani membuat inovasi,” ujarnya.

Jika memperoleh mandat masyarakat, Fahri juga menyiapkan sejumlah agenda pada 100 hari pertama pemerintahan. Program tersebut mencakup pelatihan digital bagi pelaku UMKM, sekolah lapang pertanian modern, pembentukan komunitas pemuda penggerak wisata serta peluncuran posko pengaduan warga secara daring.

Bagi Fahri, regenerasi kepemimpinan desa bukan sekadar persoalan usia. Menurut dia, anak muda harus memiliki kapasitas untuk masuk ke ruang pengambilan keputusan dan menerjemahkan gagasan menjadi program yang dapat diukur manfaatnya bagi masyarakat.

Dengan modal pengalaman enam tahun di pemerintahan desa, pengalaman organisasi dan dunia profesional, Fahri kini menjadikan Pilkades Goa sebagai arena untuk menawarkan model kepemimpinan yang menggabungkan pengalaman birokrasi dengan energi perubahan generasi muda.

“Anak muda bukan hanya penonton pembangunan. Kami harus mampu menjadi bagian dari solusi dan memastikan potensi desa benar-benar menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” kata Fahri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *