Tiga Poros Kekuasaan Tampil Akrab, Resistensi Politik Prabowo–Jokowi Mereda?
MATARAM, NARASIEDIA.NET – Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-7 Joko Widodo, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tampil bersama usai upacara HUT ke-81 RI di Istana Negara, 17 Agustus 2026. Momen tersebut dinilai tidak sekadar menjadi pertemuan tiga tokoh, tetapi juga membawa pesan politik di tengah dinamika menuju Pemilu 2029.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai kebersamaan Prabowo, Jokowi, dan Gibran dapat dibaca sebagai pesan mengenai soliditas politik di lingkaran kekuasaan.
Menurut Iwan, kemunculan ketiganya dalam satu momen publik memperlihatkan bahwa hubungan politik Prabowo dan Jokowi masih terjaga. Hal tersebut sekaligus menjadi kontras terhadap berbagai spekulasi mengenai keretakan maupun perbedaan kepentingan di antara keduanya.
“Dan tidak seperti spekulasi yang selama ini berkembang mengenai keretakan atau perbedaan kepentingan,” kata Iwan dalam keterangan tertulis.
Selain menunjukkan hubungan Prabowo dan Jokowi, kehadiran Gibran dinilai memiliki makna tersendiri. Iwan melihat Gibran sebagai simbol kesinambungan politik antara pemerintahan sebelumnya dan pemerintahan saat ini.
“Jokowi sebagai representasi pemerintahan sebelumnya, Prabowo sebagai Presiden saat ini, dan Gibran sebagai Wakil Presiden yang menjadi bagian penting pemerintahan ke depan,” ujarnya.
Menurut Iwan, pesan berikutnya berkaitan dengan stabilitas politik. Di tengah dinamika politik nasional dan persiapan menuju Pemilu 2029, kebersamaan ketiga tokoh tersebut dapat dibaca sebagai sinyal kepada publik maupun elite bahwa kekuatan politik di sekitar pemerintahan masih relatif solid.
Momen tersebut juga dinilai dapat menjadi simbol untuk membantah narasi mengenai konflik internal di antara tiga tokoh tersebut.
“Politik tidak hanya dibangun melalui pernyataan resmi, tetapi juga melalui simbol. Kemesraan Prabowo, Jokowi, dan Gibran adalah simbol yang ingin menunjukkan bahwa komunikasi dan hubungan politik ketiganya tetap baik,” kata Iwan.
Namun, kedekatan yang terlihat di ruang publik belum otomatis menunjukkan kesamaan seluruh kepentingan politik.
Dinamika politik menuju 2029 masih sangat mungkin berkembang, termasuk terkait arah koalisi, konfigurasi kekuatan partai politik, dan kepentingan masing-masing elite.
Karena itu, Iwan mengingatkan pentingnya melihat apakah kedekatan simbolik tersebut nantinya diikuti konsistensi kerja sama politik dan kesamaan arah koalisi.
“Karena itu, yang paling penting adalah melihat apakah kedekatan simbolik ini kemudian diikuti oleh konsistensi kerja sama politik dan arah koalisi,” pungkasnya.

