Pemprov NTB Dorong Wellness Tourism sebagai Strategi Memperkuat Ekonomi Lokal
MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menempatkan wellness tourism sebagai strategi untuk memperkuat dampak ekonomi sektor pariwisata dengan menghubungkan berbagai sektor pembangunan, mulai dari pertanian, kelautan, UMKM hingga desa wisata.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, mengatakan arah baru pembangunan pariwisata itu berangkat dari pandangan bahwa keberhasilan sektor wisata tidak lagi cukup diukur dari banyaknya kunjungan wisatawan.
Menurut dia, yang lebih penting adalah bagaimana wisatawan tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak pengalaman, membelanjakan lebih banyak produk lokal, dan pada akhirnya memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
“Pariwisata berkualitas bukanlah tentang berapa banyak orang yang datang, tetapi berapa besar manfaat yang tinggal,” ujar Ahsanul Khalik dalam tulisannya mengenai strategi pengembangan wellness tourism di NTB.
Ia menjelaskan, strategi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Triple Agenda Pemerintah Provinsi NTB, khususnya pada sektor pariwisata berkelanjutan di bawah kepemimpinan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri.
Menurut Ahsanul, wellness tourism tidak diposisikan sebagai sekadar produk wisata baru, melainkan instrumen pembangunan daerah yang menghubungkan berbagai sektor ekonomi.
Ia menyebut sektor pariwisata akan dikaitkan dengan pertanian melalui peningkatan permintaan terhadap pangan sehat, produk organik, madu Sumbawa, kopi NTB, kelor, rempah-rempah dan berbagai komoditas lokal lainnya yang menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Di sektor kelautan, strategi tersebut juga diarahkan untuk mendorong hasil perikanan berkualitas, wisata bahari, konservasi laut, serta pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Sementara pada tingkat desa, pengembangan wellness tourism diharapkan memperkuat desa wisata, homestay, atraksi budaya, ekonomi kreatif, hingga meningkatkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata.
Ahsanul menegaskan, keberhasilan strategi tersebut juga bergantung pada pelestarian lingkungan dan budaya lokal.
“Pada saat yang sama, pelestarian hutan, pantai, laut, sumber mata air, dan budaya lokal menjadi fondasi utama. Sebab, tidak mungkin menghadirkan pengalaman wellness tourism tanpa alam yang lestari dan masyarakat yang tetap menjaga jati dirinya,” katanya.
Ia menambahkan, manfaat ekonomi dari strategi tersebut diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Setiap wisatawan yang datang mengikuti berbagai agenda olahraga maupun wisata di NTB diharapkan tidak hanya menginap di hotel atau homestay, tetapi juga menggunakan transportasi lokal, menikmati kuliner daerah, membeli hasil pertanian dan perikanan, serta memanfaatkan jasa masyarakat.
Dengan demikian, kata dia, manfaat ekonomi dapat mengalir kepada petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, pemandu wisata, pengemudi transportasi, perajin, seniman hingga generasi muda yang mengembangkan usaha kreatif.
“Semakin panjang rantai ekonomi lokal yang terlibat, semakin besar nilai tambah yang tinggal di daerah,” ujarnya.
Karena itu, menurut Ahsanul, wellness tourism tidak hanya berbicara mengenai sektor pariwisata semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesehatan, pertanian, kelautan, desa, budaya, lingkungan, hingga kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

