Pariwisata NTB Tumbuh, Tapi Okupansi Hotel dan Durasi Tinggal Wisatawan Tak Ikut Menguat
MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Di tengah klaim tren positif sektor pariwisata sebagai penopang pertumbuhan ekonomi daerah, sejumlah indikator menunjukkan kinerja pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) belum sepenuhnya mengalami penguatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mengindikasikan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan belum berbanding lurus dengan kinerja sektor akomodasi maupun optimalisasi nilai ekonomi yang dihasilkan.
Pada Maret 2026, BPS mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke NTB mencapai 1,39 juta perjalanan atau meningkat 34,64 persen dibandingkan Februari 2026. Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid tercatat sebanyak 6.428 kunjungan, naik 24,72 persen secara bulanan.
Di sisi lain, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada periode yang sama justru berada di level 31,26 persen, turun 0,52 poin dibandingkan Februari 2026. Adapun TPK hotel nonbintang tercatat sebesar 20,84 persen.
Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan volume kunjungan belum sepenuhnya diikuti peningkatan utilisasi fasilitas akomodasi. Secara ekonomi, kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kuantitas kunjungan dan kualitas dampak yang dihasilkan.
Indikator lain yang turut mencerminkan kualitas pergerakan wisatawan adalah rata-rata lama menginap (length of stay). BPS mencatat, rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang di NTB pada Maret 2026 berada di angka 1,90 hari, sementara tamu hotel nonbintang tercatat 1,63 hari.
Durasi tinggal yang relatif singkat tersebut mengindikasikan terbatasnya peluang perputaran ekonomi yang dapat diserap oleh sektor pendukung pariwisata, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro dan ekonomi kreatif.
Komposisi wisatawan juga menjadi faktor yang relevan untuk dicermati. BPS mencatat sebanyak 65,72 persen tamu hotel berbintang pada Maret 2026 merupakan wisatawan domestik. Dominasi wisatawan nusantara berkontribusi terhadap peningkatan jumlah kunjungan, tetapi secara umum memiliki pola belanja dan durasi tinggal yang lebih rendah dibandingkan wisatawan mancanegara. BPS mencatat rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara yang berkunjung ke NTB mencapai Rp2.877.640 per perjalanan sepanjang 2024. Namun angka ini lebih sedikit dibanding dengan pengeluaran wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada 2024 mencapai US$1.391,85 per perjalanan, atau setara sekitar Rp22,7 juta.

