HEADLINENTBTERKINI

Kontras, Pulau Sumbawa Alirkan Triliunan Untuk NTB, Namun Angka Pekerja Migran Terus Meningkat

Mataram, NARASIMEDIA.NET – Target investasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2026 dipatok sebesar Rp64 triliun, meningkat dari Rp61,10 triliun pada 2025. Namun, di balik ambisi tersebut, struktur realisasi investasi masih menunjukkan ketimpangan sektoral dan kewilayahan.

Mengutip laporan Bisnis.com, kontribusi terbesar investasi saat ini masih didominasi sektor pertambangan. Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menjadi penopang utama dengan nilai mencapai Rp46 triliun. Angka ini jauh melampaui Lombok Tengah yang mengandalkan kawasan Mandalika serta Kota Mataram yang bertumpu pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dominasi KSB dalam peta investasi NTB memperlihatkan peran strategis daerah tersebut sebagai episentrum ekonomi berbasis sumber daya alam. Namun, besarnya nilai investasi itu tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan penerimaan daerah.

Data hingga kuartal III 2025 menunjukkan, KSB hanya menerima sekitar Rp174 miliar per tahun dari Dana Bagi Hasil (DBH) sektor pertambangan. Nilai tersebut merupakan bagian dari skema distribusi 2,5 persen dana transfer DBH oleh Pemerintah Provinsi NTB.

Kondisi ini memunculkan kritik terkait keadilan fiskal, terutama menyangkut proporsi bagi hasil yang dinilai belum mencerminkan kontribusi riil daerah penghasil.

Di sisi lain, Di tengah dominasi sektor tambang yang padat profit, dinamika ketenagakerjaan di Kabupaten Sumbawa Barat malah menunjukan peningkatan jumlah pekerja migran. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lonjakan jumlah PMI dari hanya 28 orang pada 2021 menjadi 247 orang pada 2022, dan kembali meningkat menjadi 293 orang pada 2024. Pada 2026, tren tersebut masih berlanjut dengan konsentrasi terbesar berasal dari Kecamatan Taliwang sebanyak 116 orang, disusul Brang Rea dan Poto Tano.

Dari sisi profil, mayoritas PMI didominasi perempuan mencapai 269 orang atau 91,8 persen, sementara laki-laki hanya 24 orang. Berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan SMA menjadi kelompok terbesar dengan 146 orang, diikuti lulusan SMP sebanyak 104 orang. Negara tujuan utama terkonsentrasi di kawasan Asia Timur, yakni Taiwan 95 orang, Hong Kong 78 orang, dan Singapura 38 orang. Data ini menunjukkan bahwa migrasi tenaga kerja di KSB bukan semata akibat kemiskinan, melainkan dipicu keterbatasan lapangan kerja bagi lulusan menengah, sehingga pekerja migran berfungsi sebagai katup pengaman ekonomi di tengah ketimpangan distribusi manfaat pembangunan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *