LIPSUS : Bahlil Anomaly
narasimedia.net – Ada fakta menarik dalam krisis energi global belakangan ini. Ketika banyak negara mulai limbung akibat lonjakan harga minyak, Indonesia justru tampak tenang. Mudik Lebaran berjalan, dan pemerintah bahkan memutuskan tidak menaikkan harga BBM per 1 April, Padahal situasi dunia sedang risau soal pasokan energy.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengguncang jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia. Harga minyak meroket, sejumlah lembaga bahkan memperkirakan bisa menembus di atas US$120 hingga US$150 per barel jika krisis berlanjut. Pakistan mulai memangkas hari kerja, Philippines menetapkan darurat energi, sementara Sri Lanka dan Nepal mulai menghadapi pembatasan bahan bakar.
Di tengah kepanikan itu, justru figur yang selalu pada posisi underestimate, menteri ESDM Bahlil Lahadalia muncul sebagai figur paling menentukan di balik stabilitas energi Indonesia.
Selama ini Bahlil kerap dipandang sebelah mata, Ia lebih sering diingat karena gaya bicaranya yang lugas, kadang kasar, dan tidak terlalu “teknokratik”. Dalam politik Indonesia yang terbiasa menilai orang dari penampilan dan retorika, sosok seperti Bahlil mudah sekali diremehkan.
Psikologi menyebutnya sebagai availability heuristic, yang dimana publik cenderung menilai seseorang berdasarkan hal yang paling mudah diingat, bukan berdasarkan kinerjanya. Orang lebih cepat mengingat logat dan celetukan Bahlil, daripada membaca apa yang sebenarnya ia lakukan ketika krisis energi global mulai mengancam.
Padahal, jika ditelusuri, langkah Bahlil justru terbilang responsif.
Begitu Selat Hormuz terganggu, Kementerian ESDM segera mengalihkan sumber impor energi. Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan Timur Tengah yang hanya sekitar seperlima dari total impor dimanfaatkan sebagai ruang manuver. Pasokan mulai didiversifikasi ke United States, Australia, hingga membuka peluang kerja sama dengan Russia. Ia tak biarkan Indonesia ikut tersandera pada satu jalur distribusi.
Di saat negara lain sibuk memadamkan kepanikan domestik, Bahlil juga memilih bermain di level diplomasi. Ia terbang ke Tokyo untuk memperkuat kerja sama energi dengan Japan, termasuk pasokan mineral kritis dan investasi sektor energi.
Impacnya, Pemerintah memutuskan menahan harga BBM subsidi dan bahkan belum menaikkan BBM nonsubsidi, meski harga minyak dunia sudah jauh di atas asumsi APBN. Keputusan ini bukan tanpa risiko. Setiap kenaikan harga minyak global berarti tambahan tekanan pada subsidi energi dan ruang fiskal negara. Tetapi pemerintah tampaknya memprioritaskan proteksi daya beli masyarakat dan memastikan roda ekonomi tidak macet di tengah musim mudik dan ketidakpastian global.
Yang menarik, Bahlil tidak hanya berhenti pada konferensi pers. Ia juga turun langsung mengecek stok, meminta masyarakat tidak panic buying, dan memastikan cadangan nasional tetap tersedia. Ia tahu bahwa dalam krisis, persepsi publik sama pentingnya dengan pasokan. Ketika masyarakat panik, antrean bisa terjadi bahkan sebelum stok benar-benar habis.
Dalam teori kepemimpinan Jim Collins, ada konsep hedgehog concept, pemimpin efektif adalah mereka yang fokus pada irisan antara apa yang mereka kuasai, apa yang dibutuhkan situasi, dan apa yang paling menentukan bagi organisasi. Bahlil tampaknya tidak mencoba menjadi ekonom besar, diplomat ulung, atau teknokrat sempurna sekaligus. Ia bermain di kekuatannya sendiri, cepat mengambil keputusan, berani bernegosiasi, dan pragmatis.
Tentu, Bahlil bukan tanpa kekurangan. Cadangan energi Indonesia masih relatif tipis, hanya sekitar 21–28 hari, jauh di bawah standar internasional yang bisa mencapai 90 hari. Komunikasi publik pemerintah juga belum selalu rapi. Sering kali publik baru mengetahui langkah strategis pemerintah setelah isu keburu liar di media sosial.
Tetapi di tengah krisis energi terbesar dalam beberapa dekade, Indonesia setidaknya masih berdiri tegak, belum ada lonjakan harga yang memukul rakyat.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, publik perlu mengakui satu hal, Bahlil Lahadalia bukan lagi figur yang sekadar ada di kabinet. Ia sedang membuktikan dirinya sebagai salah satu orang paling penting di balik stabilitas Indonesia hari ini.

