Ali Khamenei, Dari Mashhad ke Puncak Kekuasaan Teokrasi Iran
Narasimedia.net –
Belum lama ini, tangis ribuan warga pecah di jalan-jalan utama Teheran, Minggu (1/3/2026), ketika prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berlangsung di tengah suasana duka nasional. khamenei dikabarkan wafat dalam serangan amerika serikat dan israel di iran.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Ayatollah Khamenei wafat pada Sabtu (28/02) dini hari di kantornya “saat sedang menjalankan tugas.”
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut tewas dalam serangan tersebut.
Kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), juga memberitakan bahwa salah satu menantu perempuan Khamenei tewas.
Kepergian sosok yang selama lebih dari tiga dekade memegang otoritas tertinggi di Republik Islam itu menandai berakhirnya satu babak panjang sejarah politik Iran modern. Untuk memahami besarnya dampak wafatnya, publik tak bisa melepaskan diri dari jejak panjang kehidupan dan kiprah politiknya yang membentuk wajah Iran hari ini.
khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 1939, ia tumbuh dari keluarga ulama Syiah. Jalan hidupnya tak pernah jauh dari kitab-kitab agama, mimbar dakwah, dan pusaran politik yang mengguncang negaranya.
Sejak muda, Khamenei menempuh pendidikan agama di Mashhad dan kemudian di Qom, pusat intelektual Syiah. Di sana, ia menyerap gagasan perlawanan terhadap rezim monarki Shah, Mohammad Reza Pahlavi. Aktivismenya membuat ia beberapa kali ditahan aparat keamanan. Namun tekanan itu justru menguatkan posisinya di lingkaran ulama revolusioner.
Ketika gelombang protes meledak pada akhir 1970-an dan berujung pada Revolusi Iran 1979, Khamenei berada di barisan pendukung setia Ruhollah Khomeini. Revolusi tersebut menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam Iran, sebuah sistem politik unik yang memadukan republik dengan kepemimpinan ulama.
Perjalanan politiknya menanjak cepat. Pada 1981, di tengah situasi domestik yang belum stabil dan perang dengan Irak, Khamenei terpilih sebagai Presiden Iran. Ia menjabat dua periode hingga 1989. Tahun itu menjadi titik balik: wafatnya Ayatollah Khomeini membuka jalan bagi Khamenei untuk menduduki posisi tertinggi sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, jabatan dengan otoritas melampaui presiden dan parlemen.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memegang kendali atas militer, peradilan, dan garis besar kebijakan strategis negara. Dalam struktur politik Iran, posisinya bukan sekadar simbolis. Ia menjadi rujukan akhir dalam isu-isu vital, mulai dari kebijakan nuklir, hubungan dengan Amerika Serikat, hingga peran Iran di kawasan Timur Tengah.
Di mata para pendukungnya, Khamenei adalah penjaga ideologi revolusi dan stabilitas negara di tengah tekanan sanksi internasional. Namun bagi para pengkritiknya, pemerintahannya dinilai membatasi ruang kebebasan politik dan sipil. Demonstrasi, sanksi ekonomi, dan ketegangan regional menjadi bagian dari lanskap kepemimpinannya selama lebih dari tiga dekade.
Kini, lebih dari 35 tahun setelah menjabat, Ali Khamenei tetap menjadi figur sentral dalam politik Iran. Dari ruang-ruang studi agama di Qom hingga istana kepemimpinan di Teheran, perjalanan hidupnya mencerminkan transformasi Iran modern, sebuah negara yang terus berdiri di persimpangan antara ideologi revolusi dan realitas geopolitik global.

