Ironi DBHCT : Pemerintah Sedot Triliunan Dari Cukai Tembakau, Petani Dipaksa Bertahan Tampa Subsidi
Foto : ilustrasi
Lombok Timur, NARASIMEDIA.NET – Sementara negara memperoleh triliunan rupiah dari cukai rokok, kondisi petani tembakau di Lombok Timur justru memprihatinkan. Di tengah anjloknya harga jual hasil panen, para petani mengaku tidak pernah merasakan manfaat dari Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai Hasil Tembakau yang setiap tahun ditagih ketat oleh pemerintah.
Agus Salim, salah seorang petani tembakau asal Lombok Timur, menuturkan harga jual tembakau semakin jatuh. Jika sebelumnya satu bal tembakau bisa laku hingga Rp1 juta, kini harganya bahkan di bawah angka tersebut.
“Segi penjualannya sangat murah, jadi tidak seperti sebelumnya satu juta per bal, sekarang di bawah satu juta per bal,” ujar Agus kepada media ini selasa (9/9).
Baca juga : Pergantian Fokus Anggaran, Ratusan Mahasiswa STAIS Kehilangan Beasiswa
Lebih jauh, Agus menilai pemerintah terkesan abai terhadap nasib petani. Menurutnya, tidak ada dukungan berarti dalam bentuk subsidi maupun fasilitas yang seharusnya disalurkan dari dana cukai rokok.
“Sama sekali tidak ada, asli mandiri kami. Sedangkan mereka getol minta cukai rokok. Biasanya dikasih mesin rajang dari dinas pertanian, ini kan sama sekali tidak kami terima,” ungkapnya.
Para petani berharap pemerintah bisa membuka ruang dialog dan memberi perhatian lebih serius. Agus menegaskan, jika aspirasi itu kembali diabaikan, para petani tidak menutup kemungkinan akan turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa sebagai bentuk penekanan atas tuntutan mereka.
Baca Juga : Ditengah Efisiensi, Gaji Anggota DPRD KSB Dikabarkan Naik, Ketua Dewan Pilih Tak Berkomentar
“Harapan kami sederhana, pemerintah memperhatikan nasib petani. Jika tidak, besar kemungkinan kami akan melakukan aksi unjuk rasa,” tegasnya.
Sejauh ini, para petani menilai beban yang mereka tanggung tidak sebanding dengan kontribusi cukai yang terus diminta pemerintah.
Baca Juga : NTB Siaga Satu, Pola komunikasi Gubernur Jadi sorotan Usai gagal Mitigasi Konflik
Situasi ini menambah tekanan ekonomi rumah tangga petani, terlebih ketika harga tembakau yang menjadi komoditas andalan Lombok Timur justru jatuh. (red)

