HEADLINENTBTERKINI

Ketua CMMI Kritik “Salasa Menyapa” Pemkab Bima ditengah Krisis Gas LPG

Bima, NARASIMEDIA.NET — Program Salasa Menyapa yang digagas Pemerintah Kabupaten Bima menuai kritik tajam dari kalangan aktivis. Salah satunya datang dari  Ketua DPD CMMI (Cendekia Muda Muslim Indonesia), Adi Markus, menyebut program tersebut hanya menjadi ajang pencitraan dan jauh dari upaya menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Salasa Menyapa atau Salasa Pura-Pura? Kami rakyat Bima tidak butuh sekadar sapaan manis di hari Selasa. Kami butuh aksi nyata,” tegas Adi Markus dalam pernyataan tertulis tertanggal 22 Juli 2025.

Adi menyoroti krisis kelangkaan gas elpiji 3 kilogram yang membuat masyarakat harus antre panjang dan membayar harga di atas normal, sementara pemerintah terkesan tidak mengambil langkah konkret.

Baca Juga : Usai Penggusuran, Tanjung Aan Siap Dibangun Hotel Bintang 5 dengan nilai investasi Rp 2,1 Triliun

“Sementara pemerintah sibuk dengan acara Salasa Menyapa, rakyat justru berdesak-desakan di antrean gas elpiji 3 kg yang semakin langka. Harga melambung, distribusi kacau, dan tidak ada langkah tegas dari Pemkab,” lanjutnya.

Ia juga mempertanyakan efektivitas kegiatan Salasa Menyapa jika hanya berujung pada dokumentasi di media sosial tanpa menyelesaikan keluhan masyarakat.

“Apa gunanya Salasa Menyapa jika rakyat harus memasak dengan kayu bakar karena gas langka? Apa gunanya menyapa jika keluhan rakyat hanya dicatat lalu dilupakan?” ujarnya.

Baca Juga : Risiko Tsunami Darat: Aspek Geologis Jadikan Bendungan Meninting Situ Gintung Jilid II

Melalui pernyataannya, Adi Markus mengajukan tiga desakan kepada Pemerintah Kabupaten Bima:

1. Segera menyelesaikan persoalan kelangkaan gas elpiji 3 kg, termasuk pengawasan ketat terhadap jalur distribusi, penindakan terhadap penimbun, dan penyesuaian harga sesuai HET.

2. Menghentikan praktik pencitraan lewat Salasa Menyapa yang hanya menampilkan senyum pejabat di media sosial.

3. Mengalihkan kegiatan setiap hari Selasa untuk rapat kerja darurat membahas persoalan mendesak rakyat seperti gas, pupuk, jalan rusak, dan kebutuhan pokok lainnya.

“Rakyat Bima sudah muak dengan janji kosong. Kami tidak butuh ‘disapa’ tiap Selasa, kami butuh pemerintah yang bergerak cepat. Jangan sampai Salasa Menyapa berubah menjadi Salasa Membiarkan,” tutupnya. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *