HAPPENINGHEADLINENTBTERKINI

Risiko Tsunami Darat: Aspek Geologis Jadikan Bendungan Meninting Situ Gintung Jilid II

Lombok, NARASIMEDIA.NET Pembangunan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat selama ini diberitakan sebagai proyek strategis nasional, dengan wacana besar untuk menjamin ketahanan air dan irigasi di wilayah selatan Pulau Lombok. Namun di balik narasi positif yang mendominasi, sejumlah kekhawatiran teknis dari kalangan insinyur geoteknik dan ahli hidrologi serta beberapa penelitian dan eksiden pembanding justru membuat bendungan ini dilihat sebagai ancaman. Terlebih, proyek ini berdiri di atas tanah yang memiliki karakteristik geologis dan seismik yang kompleks.

RISIKO GEOTEKNIK DI TANAH RAWAN LONGSOR

Lombok merupakan daerah dengan kerentanan tinggi terhadap gerakan tanah, terutama pada musim hujan. Dalam laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), daerah sekitar Kecamatan Batulayar lokasi bendungan termasuk zona waspada longsor. Jenis tanah dominan di wilayah ini adalah tanah lempung dan regosol yang cenderung labil .

Dalam sebuah penelitian oleh Nyagin,. (2023). Yang berjudul Pengaruh Tekanan Hidrostatis Terhadap Debit Rembesan Sekat Kanal Berkonstruksi Beton pada Lahan Gambut, ditemukan bahwa terdapat hubungan linier antara perbedaan tinggi tekanan hidrostatis (ΔTTH) dengan debit rembesan yang terjadi. Semakin besar ΔTTH, maka debit rembesan yang tercatat juga semakin tinggi. Hal ini terlihat dari data pengujian, di mana debit rembesan tertinggi mencapai 45 cm³/detik pada saat ΔTTH berada pada level 100 persen. Sebaliknya, ketika ΔTTH menurun hingga 46 persen, debit rembesan juga menurun secara signifikan menjadi 11,9 cm³/detik. Temuan ini menegaskan tekanan hidrostatis dapat mempengaruhi rembesan pada konstruksi beton.

Disisi lain, penelitian dari Wahab et al. (2021) mengemukakan, tanah gambut secara alami memiliki kekuatan dan kekompakan rendah, sehingga perlu perlakuan khusus sebelum dipakai sebagai fondasi. Hal yang sama juda ditemukan Mills et al. (2023), dalam risetnya menemukan,  konstruksi atau restorasi pada lahan gambut memiliki risiko tinggi menyebabkan instabilitas atau longsor.

Kekhawatiran teknis yang sama juga disampaikan oleh seorang insinyur geoteknik anonym yang pernah  terlibat dalam proyek bendungan di wilayah lain di Nusa Tenggara Barat. Ia menyatakan, “Secara umum, pembangunan bendungan di wilayah seperti Meninting harus mempertimbangkan rekahan tanah lama, potensi likuifaksi, dan daya dukung tanah. Kalau tidak dikaji lebih dalam, bisa saja terjadi rembesan atau bahkan failure struktural.” Pungkasnya.

Hal ini mengingatkan pada kasus Bendungan Situ Gintung pada 2009, di mana kegagalan tanggul terjadi karena kelemahan pada fondasi dan dinding bendungan yang tidak mampu menahan tekanan air akibat hujan ekstrem.

ANCAMAN SEISMIK: DI TENGAH JALUR VULKANIK AKTIF

Lombok juga berada di zona subduksi aktif, bagian dari ring of fire yang membuat wilayah ini sangat rawan terhadap gempa tektonik. Gempa Lombok pada 2018, dengan magnitudo di atas 6,5 sebanyak tiga kali dalam rentang satu bulan, menunjukkan besarnya tekanan seismik di bawah Pulau Lombok.

Dalam studi oleh Tesfamariam, 2017, tentang ketahanan struktur pascagempa, tercatat bahwa banyak infrastruktur baru tidak dirancang dengan seismic isolation design yang memadai.

hal ini seolah menegaskan bahwa walau Bendungan Meninting sudah dikaji dalam Amdal dan DED, Tapi tidak ada jaminan bahwa sistem pengaman bendungan bisa menahan efek likuifaksi atau pergeseran tanah bila terjadi gempa besar. Mitigasi harusnya juga menyertakan sistem early warning untuk retakan atau over-topping.

Kasus serupa pernah terjadi pada Bendungan Sefidrud di Iran, yang mengalami kerusakan parah pada tubuh bendungan akibat gempa 6,8 SR tahun 1990. Di Amerika Serikat, Bendungan Oroville mengalami kerusakan serius pada saluran pelimpah pada 2017, walaupun bendungan tersebut telah memenuhi standar teknik tinggi. Kedua kasus ini menunjukkan bahwa bahkan struktur besar pun bisa runtuh oleh faktor alamiah yang tidak terprediksi secara absolut.

Menurut International Commission on Large Dams (ICOLD), lebih dari 100 bendungan besar di seluruh dunia telah mengalami kegagalan teknis sejak 1975, dan 30% di antaranya disebabkan oleh kegagalan fondasi dan aktivitas seismik

Efek domino Jika terjadi gempa besar dengan pusat gempa dangkal di sekitar lokasi bendungan, maka ada tiga skenario simultan yang dapat memicu kegagalan: Terjadinya likuifaksi yang melemahkan daya dukung tanah fondasi. Munculnya rekahan atau pergeseran struktur akibat getaran horizontal. Ketidaksiapan sistem pelimpah dan peringatan dini (early warning system) untuk menangani volume air berlebih.

POTENSI TSUNAMI BESAR AKIBAT AKTIFITAS SEISMIK DAN TEKANAN HIDROSITAS TANAH GAMBUT TERHADAP KONSTRUKSI BENDUNGAN

Meskipun Bendungan Meninting digagas sebagai bagian dari proyek strategis nasional untuk mendukung ketahanan air dan pertanian di Pulau Lombok, potensi bencana sekunder yang dapat muncul apabila risiko geoteknik dan seismik tidak ditangani secara optimal sangat mengkhawatirkan. Salah satu skenario terburuk yang mungkin terjadi adalah terjadinya tsunami buatan (dam-break flood wave) akibat kegagalan struktur bendungan pasca-gempa atau longsor besar.

Jika fondasi bendungan mengalami deformasi karena likuifaksi atau longsor yang sangat mungkin terjadi mengingat lokasi berada di zona tanah lempung dan regosol struktur bendungan berisiko jebol atau mengalami over-topping. Volume air yang besar, dengan ketinggian dan tekanan tinggi, bisa lepas secara tiba-tiba dan mengarah ke daerah padat penduduk seperti Kecamatan Batulayar dan Senggigi.

Menurut ICOLD (2016), dam-break flood wave bisa menyerupai tsunami mini yang membawa energi kinetik besar, dengan kecepatan aliran mencapai puluhan hingga ratusan  kilometer per jam, tergantung kontur wilayah dan volume tampungan.

Jika Bendungan Meninting jebol, gelombang air bisa menghantam kawasan hilir dalam hitungan menit. Desa-desa di jalur aliran Sungai Meninting akan terdampak langsung. Berdasarkan peta ketinggian wilayah, banjir bandang bisa mencapai kawasan wisata seperti Senggigi dan bagian barat Kota Mataram. Gelombang air yang membawa material padat seperti bebatuan, batang pohon, dan lumpur berpotensi menyebabkan korban jiwa besar serta kerusakan lingkungan yang luas.

Kejadian ini bisa menyamai tsunami darat yang pernah terjadi di India dan Tiongkok akibat bendungan runtuh, yang menewaskan ribuan orang dalam waktu singkat.

 

 

 

Referensi:

  • Tesfamariam, S., & Goda, K. (2017). Impact of earthquake types and aftershocks on loss assessment of non-code-conforming buildings: Case study with Victoria, British Columbia. Earthquake spectra33(2), 551-579..
  • ICOLD Bulletin 154. (2016). Dam Safety Management: Operational Phase of Dams.
  • Apriyanto, S. L., & Soetjipto, W. (2025). The Impact Of Dams on Agricultural Productivity In Indonesia. EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis13(3), 2457-2466.
  • Hosseini, K., & Amini, R. (2001). Earthquake-Induced Dam Failure in Iran: A Case Study of Sefidrud. Earthquake Engineering Research Institute.
  • Nyagin, R. A., Yupi, H. M., & Nindito, D. A. (2023). Pengaruh Tekanan Hidrostatis Terhadap Debit Rembesan Sekat Kanal Berkonstruksi Beton pada Lahan Gambut. Jurnal Basement: Jurnal Teknik Sipil1(1), 58-66.
  • Wahab, A., Embong, Z., Tajudin, S. A. A., Zaman, Q. U., & Ullah, H. (2021). The electrokinetic stabilization (EKS) impact on soft soil (peat) stability towards its physical, mechanical and dynamic properties at Johor state, Peninsular Malaysia. Physics and Chemistry of the Earth, Parts a/b/c123, 103028.
  • Zulanda, M. R., Mahbub, I. A., & Fuadi, N. A. (2024). Kajian Hara Makro Primer Tanah Gambut Pada Dua Penggunaan Lahan di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Betara. Syntax literate8(4).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *