BUDAYA DAN PARIWISATAHEADLINENTBTERKINI

Proyek Seaplane dan Glamping di Rinjani Masuk Tahap Perizinan

Mataram, NARASIMEDIA.NET – Rencana pembangunan fasilitas wisata seaplane dan glamping di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Nusa Tenggara Barat, bukan sekadar spekulasi. Proyek ini telah diajukan secara resmi dan kini tengah dalam proses permohonan izin melalui sistem Online Single Submission (OSS).

Perusahaan pengusul, PT Solusi Pariwisata Inovatif (SPI), tercatat mengajukan izin pengusahaan kawasan wisata alam melalui skema Perizinan Berusaha Pengusahaan Sarana Jasa Lingkungan Wisata Alam, yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Hingga saat ini, permohonan tersebut masih dalam proses penilaian dan belum memperoleh keputusan akhir. Pihak Balai TNGR membenarkan adanya pengajuan izin tersebut, namun belum merinci lokasi spesifik rencana pembangunan yang diduga akan menyentuh sebagian wilayah konservasi, termasuk area di sekitar Danau Segara Anak.

Dalam pernyataan resmi, Balai TNGR menyebutkan bahwa fasilitasi izin mengacu pada Permen LHK Nomor 3 Tahun 2021 dan Permen LHK Nomor P.8/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2019. Proses penilaian turut mempertimbangkan aspek zonasi ruang, khususnya yang berada di zona pemanfaatan.

Namun, dibalik megahnya wacana tersebut, mengundang gelombang penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Pada Rabu, 9 Juli 2025, gabungan organisasi yang tergabung dalam Aliansi Rinjani Memanggil bersama Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Rinjani menggelar aksi protes di depan Kantor Balai TNGR di Kota Mataram.

Aksi tersebut diikuti oleh komunitas pecinta alam, organisasi mahasiswa, masyarakat adat, WALHI NTB, dan sejumlah pegiat lingkungan. Mereka menilai proyek berisiko merusak ekosistem Rinjani serta mengikis nilai-nilai sakral yang selama ini dijaga dalam tradisi pendakian gunung tersebut.

“Glamping, seaplane, kereta gantung, dan safety fence  jika semuanya terwujud, maka Rinjani bukan lagi gunung, tapi taman bermain,” tulis salah satu aktivis lingkungan dalam poster aksi.

Publik pun mempertanyakan siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari proyek wisata berbasis infrastruktur ini, di tengah kerentanan ekologis dan kultural kawasan Rinjani yang selama ini menjadi simbol spiritual sekaligus paru-paru alam Lombok. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *