HEADLINENTBTERKINI

47 Ribu Sapi NTB Disiapkan untuk Pengiriman Ke Jakarta

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat telah mengeluarkan sekitar 47.000 rekomendasi pengiriman sapi dari Pulau Sumbawa ke wilayah Jabodetabek sepanjang tahun 2025.

Kepala Disnakkeswan NTB, Muhamad Riadi, S.P., M.Ec.Dev., menjelaskan bahwa total kuota pengiriman untuk tahun 2025 mencapai 49.254 ekor. Namun, hingga April ini, jumlah sapi yang dikirim telah mendekati angka tersebut, mengakibatkan penumpukan di pelabuhan akibat tidak terkoordinasinya pengiriman antar daerah.

“Penumpukan terjadi karena pengiriman melebihi kesepakatan awal. Awalnya hanya disepakati 40 truk dari Bima, 15 dari Dompu dan Sumbawa, tapi dalam dua hari terakhir justru mencapai 100 truk tronton per hari. Sementara kapasitas kapal hanya mampu mengangkut 55 truk setiap dua hari,” ungkap Riadi saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (24/04/2025).

Adapun rincian kuota pengiriman sapi se-Pulau Sumbawa adalah sebagai berikut: Kabupaten Sumbawa: 16.000 ekor, Kabupaten Dompu: 12.000 ekor, Kabupaten Bima: 16.137 ekor, Kota Bima: 2.517 ekor, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB): 1.000 ekor.

Dari data tersebut, Kabupaten Bima tercatat sebagai daerah paling agresif dalam pengiriman. Hingga pertengahan April, sebanyak 4.835 ekor sapi telah dikirim dari Bima. “Sisa kuotanya tinggal 893 ekor. Dan besok, Jumat, direncanakan akan ada lagi pengiriman sekitar 3.000 ekor menggunakan kapal tol laut dari Pelabuhan Bima menuju Tanjung Priok,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, pihak Disnakkeswan akan menerapkan sistem selektif dalam mengeluarkan rekomendasi pengiriman. “Tahun lalu kami cukup longgar karena berharap semua pihak disiplin. Namun kenyataannya tidak sesuai. Tahun ini rekomendasi akan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tidak lagi dikeluarkan setiap hari,” tegas Riadi.

Ia juga menyoroti keterbatasan armada kapal khusus ternak sebagai tantangan utama. Saat ini, NTB hanya memiliki satu kapal dengan trayek Bima–Tanjung Priok–Banjarmasin. Kapal tersebut hanya mampu mengangkut ternak, bukan truk, sehingga menambah pekerjaan di pelabuhan tujuan.

“Jika ingin dialihkan ke Pelabuhan Lembar, diperlukan deviasi rute yang menambah biaya. Kami sudah mengusulkan penambahan satu kapal, tapi belum disetujui. Padahal ini sangat penting untuk kelancaran distribusi,” ujarnya.

Riadi berharap, penumpukan sapi seperti ini tidak terulang lagi. “Pada 15 April lalu, kami sudah rapat bersama KSOP Lembar dan pihak terkait lainnya. Semua sudah disepakati, tinggal implementasinya yang harus konsisten. Jika komitmen dijaga, distribusi akan berjalan lancar,” tutupnya.

Ia menekankan pentingnya keteraturan dalam proses pengiriman. “Yang kita inginkan adalah ketertiban. Dengan pengaturan yang tepat, kuota bisa tercapai, ternak tetap aman, dan pelabuhan tidak dipenuhi truk yang mengular,” pungkas Riadi. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *