HAPPENINGNTBTERKINI

Dari Proyek ke Perputaran Ekonomi, Jejak PT DIU di Tengah Pembangunan NTB

FOTO : ilustrasi (ist).

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Pembangunan di Nusa Tenggara Barat tidak berhenti pada berdirinya gedung, tersedianya infrastruktur atau selesainya sebuah pekerjaan konstruksi. Di balik setiap proyek terdapat aktivitas ekonomi yang melibatkan tenaga kerja, material, jasa pendukung hingga pelaku usaha yang berada di sekitar rantai pembangunan.

Karena itu, proyek pembangunan memiliki ruang yang lebih luas untuk menjadi penggerak ekonomi daerah. Semangat tersebut tidak hanya berlaku untuk proyek pemerintah, tetapi juga pembangunan yang dikerjakan badan usaha milik negara (BUMN) maupun sektor swasta.

Dari perspektif perusahaan konstruksi lokal, proyek yang hadir di NTB dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi daerah ketika kapasitas dan sumber daya lokal ikut memperoleh ruang dalam proses pembangunan.

Direktur Utama PT Damai Indah Utama (DIU), Kukuh Sugiarto, ST, melihat konstruksi tidak semata sebagai aktivitas menyelesaikan pekerjaan fisik.

“Kalau kita melihat pembangunan hanya dari bangunan yang dihasilkan, kita akan kehilangan gambaran besarnya. Di belakang satu pekerjaan konstruksi ada tenaga kerja, ada material, ada pemasok, ada jasa pendukung dan ada aktivitas usaha yang ikut bergerak. Jadi, proyek pembangunan sebenarnya punya rantai ekonomi yang cukup panjang,” kata Kukuh.

Menurut dia, perusahaan konstruksi lokal berada dalam posisi yang dekat dengan ekosistem ekonomi daerah. Karena itu, keberadaan perusahaan lokal tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengerjakan pekerjaan konstruksi, tetapi juga bagaimana kapasitas tersebut dapat menjadi bagian dari perputaran ekonomi di daerah.

“Sebagai perusahaan yang lahir dan tumbuh di NTB, tentu kami ingin pembangunan yang berlangsung di daerah juga membuka ruang bagi potensi yang ada di daerah. Pemerintah punya proyek, BUMN punya proyek, swasta juga punya proyek. Semuanya bisa menjadi bagian dari gerakan ekonomi NTB,” ujarnya.

Konstruksi sebagai Rantai Ekonomi

Aktivitas konstruksi pada dasarnya melibatkan lebih dari satu sektor. Ketika sebuah proyek berjalan, kebutuhan terhadap tenaga kerja, bahan bangunan, transportasi, jasa teknis dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya ikut muncul.

Dalam konteks daerah, kondisi tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam rantai pasok pembangunan.

Kukuh menilai perspektif tersebut penting dalam melihat perkembangan industri konstruksi di NTB.

“Bagi kontraktor lokal, pembangunan bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan dan menyelesaikannya. Ada tanggung jawab untuk melihat bagaimana kegiatan itu bisa memberi ruang bagi tenaga kerja dan pelaku usaha di daerah. Kalau ekosistemnya tumbuh, perusahaan juga tumbuh bersama daerah,” kata Kukuh.

Pandangan tersebut juga membuat proyek pemerintah, BUMN dan swasta memiliki posisi yang sama dalam konteks ekonomi daerah.

Menurut Kukuh, ukuran keberhasilan pembangunan tidak semata berada pada fisik proyek yang selesai, tetapi juga pada kemampuan menciptakan aktivitas ekonomi selama proses pembangunan berlangsung.

“Kami melihat proyek pemerintah, proyek BUMN dan proyek swasta sama-sama punya peran. Yang penting bagaimana pembangunan itu bisa menciptakan nilai tambah di daerah. Perusahaan lokal ingin menjadi bagian dari proses itu, bukan hanya sebagai pelaksana konstruksi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah,” ujarnya.

Rekam Jejak di NTB

PT DIU merupakan perusahaan konstruksi yang berbasis di Kota Mataram. Dalam data terbaru Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI), perusahaan tersebut tercatat sebagai badan usaha konstruksi berkualifikasi B (Besar), dengan alamat di Jalan Dr. Soedjono No. 187, Lingkar Selatan, Kota Mataram.

Rekam jejak yang dipublikasikan perusahaan mencakup sedikitnya 32 proyek di NTB.

Portofolio tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari gedung pemerintahan, fasilitas kesehatan, pendidikan, perbankan, pariwisata hingga infrastruktur.

Rekam jejak tersebut menjadi gambaran keterlibatan perusahaan konstruksi lokal dalam berbagai kebutuhan pembangunan di NTB.

Bagi perusahaan yang berbasis di daerah, keberadaan portofolio lintas sektor juga menunjukkan bahwa industri konstruksi lokal memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam pembangunan yang berlangsung di wilayahnya.

Namun, bagi Kukuh, pertumbuhan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan daerah tempat perusahaan tersebut tumbuh.

“Kami lahir dan tumbuh di NTB. Karena itu, ketika daerah berkembang, kami juga ingin ikut berkembang di dalamnya. Bagi kami, pembangunan daerah dan pertumbuhan perusahaan seharusnya berjalan beriringan,” kata Kukuh.

Dari Pekerjaan ke Nilai Tambah

Pembangunan yang melibatkan perusahaan lokal pada akhirnya membuka hubungan antara aktivitas proyek dan perekonomian daerah.

Semakin banyak rantai kegiatan yang dapat melibatkan tenaga kerja, material, jasa dan pelaku usaha lokal, semakin besar pula peluang terciptanya perputaran ekonomi di sekitar aktivitas pembangunan.

Perspektif tersebut menjadi penting di tengah pembangunan NTB yang melibatkan berbagai sektor dan sumber pembiayaan.

Pemerintah tetap memiliki peran melalui pembangunan infrastruktur publik. Di saat yang sama, BUMN dan sektor swasta juga memiliki ruang untuk menghadirkan investasi dan proyek yang menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Dalam ekosistem tersebut, perusahaan konstruksi lokal berada pada salah satu mata rantai yang menghubungkan pembangunan fisik dengan aktivitas ekonomi di lapangan.

“Kami percaya pembangunan harus menghasilkan manfaat yang lebih luas. Bangunannya memang penting, tetapi proses menuju bangunan itu juga harus bisa menggerakkan ekonomi. Ada orang yang bekerja, ada usaha yang memasok kebutuhan, ada jasa yang berjalan. Di situlah kami melihat konstruksi sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Kukuh.

Pandangan tersebut menempatkan PT DIU bukan hanya sebagai perusahaan yang mengerjakan pekerjaan konstruksi, tetapi sebagai salah satu pelaku usaha lokal yang ingin mengambil bagian dalam ekosistem pembangunan NTB.

Dengan pengalaman pada berbagai sektor pembangunan dan rekam jejak sedikitnya 32 proyek di NTB, PT DIU menempatkan kapasitas konstruksi sebagai ruang untuk terus tumbuh bersama perkembangan daerah.

Pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang seberapa banyak proyek yang selesai. Lebih jauh, pembangunan dapat menjadi ruang untuk menciptakan nilai tambah, membuka kesempatan usaha dan menggerakkan ekonomi daerah.

Bagi perusahaan konstruksi lokal seperti PT DIU, di situlah pekerjaan membangun bertemu dengan kepentingan yang lebih besar, yaitu pertumbuhan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *