HAPPENINGNTBTERKINI

NTB Punya Modal Jadi Pionir Energi Bersih, Pemprov Dorong Ketahanan Energi dari Potensi Daerah

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu daerah pelopor transisi energi bersih di Indonesia. Potensi energi terbarukan yang tersebar di Lombok dan Sumbawa menjadi peluang bagi daerah untuk membangun ketahanan energi dengan mengandalkan sumber daya lokal.

Penilaian tersebut disampaikan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Surono dalam sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Mataram, Kamis, 20 Agustus 2026.

“NTB dikaruniai Tuhan adalah energi terbarukan dan bisa juga menjadi pionir transisi energi bersih di Indonesia, membangun ketahanan energi dengan energi bersih,” ujar Surono.

Menurut Surono, karakter geologi NTB yang berada di kawasan gunung api aktif memberikan keuntungan tersendiri dalam pengembangan energi terbarukan. Salah satu potensi terbesar berasal dari energi panas bumi yang diperkirakan mencapai 179 megawatt (MW).

Potensi tersebut berkaitan dengan keberadaan Gunung Rinjani dan Gunung Tambora. Selain panas bumi, energi surya juga dinilai dapat dikembangkan sebagai bagian dari sumber energi daerah.

“Tambora dan Rinjani menyediakan kesuburan serta panas bumi sekitar 179 megawatt. Kalau (potensi) itu digunakan dan energi surya digunakan, maka bisa saja NTB menjadi daerah yang punya ketahanan energi yang dibangun dari energi bersih,” kata Surono.

Bauran EBT NTB Sudah 25,07 Persen

Peluang NTB menjadi daerah pionir energi bersih juga ditopang capaian bauran energi baru terbarukan (EBT).

Dewan Energi Nasional mencatat bauran EBT NTB pada 2025 mencapai 25,07 persen, atau sekitar seperempat dari keseluruhan bauran energi daerah. Angka tersebut disebut termasuk salah satu yang terbesar secara nasional.

Capaian itu sekaligus menjadi modal untuk mendorong pemanfaatan potensi EBT yang masih belum optimal.

Anggota DEN Sripeni Inten Cahyani menyebut NTB memiliki potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) hingga 80 MW. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 17 MW.

Artinya, masih terdapat ruang pengembangan sekitar 63 MW dari potensi PLTA dan PLTMH tersebut, berdasarkan angka potensi dan pemanfaatan yang disampaikan DEN.

Selain energi air, potensi energi surya juga menjadi salah satu sumber yang dapat dikembangkan. Lahan yang kurang produktif, khususnya di bagian selatan Pulau Sumbawa, disebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Sementara lahan produktif tetap diarahkan untuk mempertahankan fungsi pertanian dan dapat dikembangkan sebagai hutan tanaman energi.

Potensi Lokal untuk Ketahanan Energi

Bagi NTB, pengembangan energi terbarukan tidak hanya berkaitan dengan agenda pengurangan emisi. Pemanfaatan sumber energi lokal juga dapat menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan energi daerah.

Sripeni menyebut optimalisasi berbagai potensi tersebut dapat menjadi bagian dari strategi NTB membangun ketahanan energi sekaligus mempercepat peralihan menuju sistem energi yang lebih bersih.

Pengembangan itu membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk perguruan tinggi dan pelaku usaha.

Salah satu contoh pemanfaatan potensi lokal disebut sudah berlangsung di Sumbawa melalui pemanfaatan limbah jagung sebagai biomassa untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) melalui skema co-firing.

“Di Sumbawa pakai limbah jagung untuk biomassa dan itu sudah dipakai untuk PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) sebagai co-firing. Universitas ikut berperan penting di dalam mendorong transisi energi,” ujar Sripeni.

Pemprov Dorong Ekosistem Energi Hijau

Upaya mendorong transisi energi di NTB juga telah masuk dalam agenda pemerintah daerah. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah memperkuat ekosistem riset dan inovasi untuk mendukung pengembangan energi hijau.

BRIDA NTB sebelumnya telah mendorong penguatan riset energi hijau menuju target Net Zero Emission. Pengembangan riset tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan potensi daerah dengan kebutuhan teknologi dan pengembangan energi berkelanjutan.

Di sisi lain, Dinas ESDM NTB bersama PLN juga telah menjalankan agenda dedieselisasi, yakni mendorong penggantian pembangkit listrik tenaga diesel berbahan bakar fosil dengan sumber energi yang lebih bersih. Program tersebut juga dikaitkan dengan agenda Desa Berdaya.

Dengan potensi panas bumi, surya, air, biomassa dan sumber energi terbarukan lainnya, NTB memiliki sejumlah pilihan untuk memperkuat sumber energi dari daerah sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *