Bukan Batujai, Ari Garmono Nilai Bendungan Pengga Lebih Layak Jadi Basis Seaplane NTB
Foto : Pengamat dan peneliti pariwisata NTB, Ari Garmono Bersama Ex Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno.
Mataram, NARASIMEDIA.NET – Pengamat dan peneliti pariwisata NTB, Ari Garmono, menilai rencana pengembangan seaplane di Bendungan Batujai perlu dikaji kembali secara lebih komprehensif. Menurutnya, apabila pemerintah ingin menghadirkan moda transportasi yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi pariwisata dan pembangunan daerah, maka Bendungan Pengga merupakan alternatif lokasi yang lebih strategis.
“Bendungan Pengga memiliki panorama yang sangat menarik, membuka peluang lahirnya pusat pertumbuhan ekonomi baru, berpotensi meminimalkan resistensi masyarakat, serta tetap memiliki akses yang relatif dekat dengan jalur Bypass BIL–Mandalika,” ujar Ari.
Lebih jauh, Ari menilai pemilihan Bendungan Pengga bukan sekadar persoalan lokasi operasional, tetapi juga strategi pembangunan wilayah. Selama ini, aktivitas ekonomi dan investasi pariwisata cenderung terkonsentrasi di kawasan sekitar Bandara Internasional Lombok, Mandalika, dan koridor selatan Pulau Lombok.
“Kalau basis seaplane ditempatkan di Bendungan Pengga, maka pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur transportasi, tetapi juga menciptakan titik pertumbuhan ekonomi baru. Kehadiran wisatawan akan memicu berkembangnya usaha masyarakat seperti homestay, kuliner, UMKM, jasa transportasi lokal, pemandu wisata, hingga ekonomi kreatif. Dampaknya tidak lagi terpusat di kawasan bandara, tetapi menyebar ke wilayah yang selama ini belum menikmati manfaat optimal dari pertumbuhan sektor pariwisata.”
Menurut Ari, pembangunan tersebut juga dapat menjadi instrumen social engineering yang positif. Kehadiran aktivitas ekonomi baru akan mendorong masyarakat untuk meningkatkan kapasitas, daya saing, dan kualitas pelayanan kepada wisatawan.
“Tantangannya bukan pada kemampuan masyarakat untuk berkembang, tetapi bagaimana pemerintah hadir melalui pendampingan yang berkelanjutan. Edukasi mengenai hospitality, manajemen destinasi, pengelolaan usaha wisata, kebersihan lingkungan, hingga penguatan UMKM harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proyek ini. Dengan begitu, masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.”
Sebaliknya, Bendungan Batujai memiliki sejumlah tantangan yang tidak dapat diabaikan. Selain adanya penolakan dari sebagian masyarakat, kawasan tersebut berada pada koridor lalu lintas penerbangan yang cukup padat sehingga aspek keselamatan dan pengaturan ruang udara perlu menjadi perhatian serius.
Ari juga mengingatkan bahwa Bendungan Batujai memiliki nilai ekologis dan sosial yang penting. Perairan tersebut dikenal sebagai salah satu habitat penghasil ikan tokok (gabus), yang kini mulai semakin sulit ditemukan. Kehadiran proyek baru berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap ekosistem yang sudah ada apabila tidak direncanakan secara hati-hati.
Selain itu, keberadaan eceng gondok di Batujai memang sering dipandang sebagai persoalan operasional. Namun, di sisi lain, tumbuhan tersebut telah menjadi bagian dari ekosistem alami yang selama bertahun-tahun menyediakan ruang hidup bagi berbagai jenis satwa air. Upaya pembersihan rutin yang diperlukan untuk operasional seaplane juga akan menambah biaya pemeliharaan sekaligus berpotensi mengubah keseimbangan ekologi kawasan.
Aspek sosial budaya juga tidak boleh diabaikan. Di tengah Bendungan Batujai terdapat situs makam yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Aktivitas penerbangan yang intensif berpotensi menimbulkan sensitivitas sosial dan mengurangi nilai-nilai spiritual yang masih dijaga oleh masyarakat setempat.
Menurut Ari, pengembangan seaplane seharusnya diarahkan untuk menjawab persoalan konektivitas menuju destinasi wisata yang selama ini masih sulit dijangkau, bukan justru bersaing dengan moda transportasi yang sudah mapan.
“Seaplane akan jauh lebih strategis apabila difokuskan untuk membuka akses ke destinasi seperti Pulau Moyo, Pulau Satonda, maupun kawasan pesisir di ujung timur Bima, termasuk Pantai Pink Lambu. Di lokasi-lokasi tersebut, seaplane mampu memberikan nilai tambah nyata berupa efisiensi waktu tempuh sekaligus meningkatkan daya tarik investasi pariwisata.”
Ia menambahkan bahwa menjadikan seaplane sebagai alternatif rute yang sudah dilayani penerbangan komersial, seperti Bali–Lombok, justru berisiko tidak memberikan diferensiasi yang cukup kuat.
“Transportasi baru seharusnya melengkapi sistem yang sudah ada, bukan bersaing pada pasar yang telah terbentuk. Nilai strategis seaplane terletak pada kemampuannya membuka akses ke destinasi yang selama ini belum terlayani secara optimal serta menjadi pemicu lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.”
Ari berharap Pemerintah Provinsi NTB melakukan kajian yang lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, sosial budaya, keselamatan penerbangan, serta manfaat jangka panjang bagi pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan sebuah proyek bukan hanya ditentukan oleh keberanian merealisasikan investasi, tetapi juga oleh ketepatan memilih lokasi yang mampu memberikan manfaat terbesar dengan risiko sosial dan ekologis yang paling kecil.
“Pariwisata yang berkualitas bukan hanya soal menghadirkan wisatawan, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi tersebar secara lebih merata dan mampu mengangkat kapasitas masyarakat lokal sebagai pelaku utama pembangunan.”

