Keluhan Bau Menyengat Smelter PT AMNT Kembali Muncul, Warga Mengaku Alami Gangguan Pernapasan
Foto : Pabrik Smelter PT AMNT
SUMBAWA BARAT, NARASIMEDIA.NET – Keluhan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, kembali mencuat. Warga mengaku mencium bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas smelter hingga menyebabkan gangguan kesehatan.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku bau menyengat tersebut terasa seperti belerang dan muncul pada waktu-waktu tertentu.
“Bagaimana kita menyikapi bau sangat menyengat dari smelter ini. Tenggorokan sakit, batuk kita dibuatnya,” keluh warga tersebut.
Warga lainnya mengaku bahkan telah menjalani pemeriksaan medis akibat keluhan yang dialaminya.
“Saya sudah ke dokter paru di RSI Mataram. Ada hasil rontgen, positif bronkitis,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang menyebut aroma menyengat menyerupai belerang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Bau belerangnya sangat menyengat,” ujarnya.
Keluhan tersebut menambah daftar persoalan yang sebelumnya telah disorot terkait keberadaan smelter tembaga milik PT AMNT yang beroperasi di Maluk.
Sebelumnya, laporan investigasi Mongabay Indonesia mengungkap berbagai dampak sosial dan lingkungan yang dirasakan masyarakat sejak pembangunan smelter di bekas Dusun Otak Keris. Sedikitnya sekitar 90 kepala keluarga atau dua RT harus direlokasi setelah kawasan permukiman dan lahan seluas sekitar 272 hektare beralih fungsi menjadi lokasi pembangunan fasilitas peleburan mineral.
Dalam laporan itu, warga mengaku kehilangan lahan pertanian, kebun, hingga mata pencaharian yang selama puluhan tahun menjadi sumber ekonomi keluarga. Sebagian warga bahkan menyebut proses pembebasan lahan saat itu berlangsung di bawah tekanan sehingga mereka terpaksa meninggalkan rumah dan tanah yang telah dihuni turun-temurun.
Selain persoalan relokasi, masyarakat Desa Tongo yang berada di sekitar wilayah tambang juga mengeluhkan berkurangnya sumber air bersih, menurunnya debit Sungai Sejorong, serta hilangnya kawasan hutan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Smelter PT AMNT sendiri dibangun dengan kapasitas pengolahan mencapai 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun. Fasilitas tersebut menghasilkan sekitar 220.000 ton katoda tembaga, 18 ton emas, 55 ton perak, dan sekitar 830.000 ton asam sulfat setiap tahun. (*)

