BUDAYA DAN PARIWISATANTBTERKINI

Menemukan Asa di Balik Cakrawala: Esensi Hidden Tour di Sekolah Pesisi Juang

Mataram, NARASIMEDIA.NET

Secara umum, istilah tour atau pariwisata selalu dilekatkan pada aktivitas pencarian kesenangan, komodifikasi keindahan alam, atau pelarian dari penatnya rutinitas urban. Ketika kata tersebut disandingkan menjadi hidden tour (perjalanan tersembunyi), ekspektasi publik sering kali tertuju pada penemuan pantai tersembunyi (hidden gem) yang belum terjamah manusia. Namun, di pesisir Pantai Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, konsep Hidden Tour mengalami dekonstruksi makna yang radikal. Perjalanan tersembunyi di wilayah ini tidak membawa kita pada keindahan lanskap yang romantis, melainkan pada sebuah ruang alternatif penembus batas ketimpangan sosial: Sekolah Pesisi Juang.

Sekolah Pesisi Juang, yang lahir dari rahim keresahan pemuda lokal di tengah badai pandemi tahun 2020, adalah manifestasi dari perlawanan terhadap marjinalisasi pendidikan. Bagi masyarakat luar, pesisir Ampenan mungkin hanya dipandang sebagai batas geografis tempat para nelayan menyandarkan perahu. Namun, melalui lensa Hidden Tour, kita diajak melangkah melewati batas pasir basah, menembus gang-gang sempit perkampungan nelayan yang padat, untuk menyaksikan bagaimana hak atas pendidikan diramu secara mandiri oleh komunitas akar rumput.

Esensi utama dari hidden tour ke Sekolah Pesisi Juang adalah pembongkaran ilusi visual. Selama ini, pariwisata pesisir cenderung mengabaikan realitas sosial masyarakatnya. Anak-anak nelayan sering kali hanya menjadi latar belakang estetis dalam foto-foto pelancong. Lewat perjalanan ini, realitas tersebut dibalikkan. Kita dipaksa melihat bahwa di balik gemuruh ombak yang menenangkan, ada kecemasan struktural yang menghantui masa depan generasi mudanya. Buku-buku yang menguning akibat uap garam, jemari mungil yang berbau amis ikan karena harus membantu orang tua melaut, serta ketiadaan fasilitas gawang elektronik yang memadai adalah pemandangan utama yang ditawarkan dalam “tour” kemanusiaan ini.

Lebih jauh lagi, hidden tour ini menyingkap lapisan filosofis yang mendalam mengenai keterkaitan antara gender, lingkungan, dan pendidikan, atau yang dikenal sebagai ekofeminisme. Di sekolah alternatif ini, dominasi relawan perempuan yang sebagian besar adalah mahasiswi bukanlah sebuah kebetulan. Kehadiran mereka membawa ethics of care (etika kepedulian) yang menjadi motor penggerak sekolah. Mereka meramu kurikulum tematik yang mengajarkan anak-anak tidak hanya untuk membaca dan berhitung, tetapi juga mencintai dan menjaga ekologi laut mereka. Aktivitas mengaji, kelas mendongeng, dan aksi berkala memungut sampah plastik di sepanjang pantai adalah bentuk nyata bagaimana pemulihan lingkungan berjalan beriringan dengan pemberdayaan manusia.

Pada akhirnya, hidden tour ke Sekolah Pesisi Juang memberikan tamparan reflektif bagi siapapun yang mengunjunginya. Perjalanan ini menegaskan bahwa perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang menjauhkan kita dari realitas dunia, melainkan perjalanan yang mendekatkan kita pada kemanusiaan. Sekolah Pesisi Juang bukan sekadar tempat belajar membaca aksara bagi anak nelayan, ia adalah mercusuar kecil di batas cakrawala Mataram yang membuktikan bahwa di tengah keterbatasan mutlak, harapan akan masa depan yang lebih adil dan setara selalu bisa diracik dan diperjuangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *