HEADLINENTBTERKINI

RKC Soroti Dugaan Overload dan Keselamatan Tenaga Medis di RSUD NTB, Manajemen Akui Fasilitas Belum Ideal

Mataram, MARASIMEDIA.NET – Ketua Ruang Kita Center (RKC), Is Karyanto menyoroti dugaan beban kerja berlebih terhadap tenaga medis di RSUD Provinsi NTB saat audiensi dengan jajaran direksi rumah sakit, belum lama ini.

Dalam forum tersebut, Is Karyanto mempertanyakan kondisi keselamatan kerja tenaga kesehatan menyusul munculnya kasus meninggalnya sejumlah tenaga medis yang diduga berkaitan dengan tekanan kerja dan buruknya kondisi fasilitas penunjang rumah sakit.

“Jangan sampai tenaga medis yang menjaga kesehatan masyarakat justru sakit karena lingkungan kerjanya sendiri. Ini yang kami khawatirkan,” kata Is Karyanto dalam audiensi.

Ia menyebut banyak persoalan fasilitas yang menurutnya perlu segera dibenahi, mulai dari kebocoran instalasi, keramik rusak, hingga dugaan buruknya sistem ventilasi dan sanitasi di sejumlah titik rumah sakit.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien maupun tenaga kesehatan.

“Kami mempertanyakan apakah pernah ada investigasi serius terkait kemungkinan kelelahan kerja atau faktor lingkungan kerja yang tidak sehat terhadap tenaga medis yang meninggal,” ujarnya.

Selain itu, RKC juga menilai alasan utang operasional rumah sakit tidak boleh terus menjadi pembenar lambannya pembenahan fasilitas pelayanan publik.

“Yang masyarakat lihat itu kondisi riil di lapangan. Keramik pecah, fasilitas rusak, sampai helipad berkarat. Ini rumah sakit rujukan provinsi,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD Provinsi NTB, Asrul Sani, mengakui masih terdapat sejumlah persoalan fasilitas dan pelayanan yang belum ideal. Namun ia menegaskan pihak rumah sakit terus melakukan pembenahan secara bertahap.

“Semua sudah terdata di kami, mulai dari kondensasi, kebocoran, sampai fasilitas-fasilitas yang perlu diperbaiki. Tapi pengelolaan anggaran negara tidak bisa seperti uang pribadi, ada tahapan yang harus dilalui,” ujarnya.

Asrul mengatakan manajemen rumah sakit saat ini fokus melakukan efisiensi dan penataan layanan sambil menyelesaikan persoalan utang operasional yang sebagian besar berasal dari obat-obatan dan bahan medis habis pakai.

Ia juga menegaskan tidak ada praktik “gali lubang tutup lubang” dalam pengelolaan keuangan rumah sakit.

Terkait rasio tenaga medis, Asrul menyebut sebagian layanan sudah memenuhi standar, meski masih terdapat unit yang membutuhkan penambahan tenaga.

“Jumlah staf kami sekitar 2.600 orang dan memang masih terus kami evaluasi bertahap agar pelayanan tetap maksimal,” katanya.

Pihak rumah sakit juga mengakui tingginya beban pelayanan karena sekitar 95 persen pasien yang datang merupakan peserta BPJS Kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *