Ekspor NTB Melonjak 9.162 Persen, Pariwisata dan Mobilitas Ikut Tumbuh
Mataram, NARASIMEDIA.NET – Kinerja ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada awal 2026 menunjukkan tren menguat. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat lonjakan signifikan pada sektor ekspor, pertumbuhan kunjungan wisatawan, hingga peningkatan mobilitas penumpang, di tengah inflasi yang tetap terkendali.
Kepala BPS NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (4/5/2026), menyebut nilai ekspor NTB pada Maret 2026 mencapai US$ 567,57 juta atau meningkat 9.162,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, nilai ekspor NTB tercatat sebesar US$ 707,92 juta. Kenaikan tersebut didorong oleh sektor pertambangan dan industri pengolahan tembaga.
“Peningkatan ekspor ini menjadi indikator kuat bahwa aktivitas ekonomi NTB bergerak sangat progresif, khususnya pada sektor unggulan berbasis sumber daya alam dan hilirisasi industri,” ujar Wahyudin.
Selain ekspor, sektor pariwisata juga mengalami pertumbuhan. Jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Lombok pada Maret 2026 tercatat sebanyak 6.428 orang atau naik 24,72 persen dibandingkan Februari 2026.
Sementara itu, jumlah wisatawan nusantara mencapai 1,39 juta orang atau tumbuh 34,64 persen secara bulanan. Peningkatan kunjungan tersebut turut mendorong okupansi hotel di NTB.
BPS mencatat jumlah tamu hotel bintang mencapai 87.816 orang, sedangkan hotel nonbintang sebanyak 110.249 orang. Kenaikan itu dipicu momentum libur Ramadan dan Idulfitri yang meningkatkan mobilitas masyarakat.
Di sektor transportasi, jumlah penumpang angkutan udara domestik meningkat 44,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun penumpang angkutan laut naik 39,84 persen pada periode yang sama.
Menurut Wahyudin, kenaikan mobilitas penumpang menjadi indikator meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di NTB.
Di sisi lain, inflasi NTB secara tahunan pada April 2026 tercatat sebesar 3,27 persen. Secara bulanan, NTB bahkan mengalami deflasi sebesar 0,11 persen akibat turunnya harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan sayuran seiring meningkatnya pasokan pascapanen.
“Inflasi NTB masih terjaga dengan baik, bahkan terjadi deflasi bulanan yang menunjukkan stabilitas harga di tengah peningkatan aktivitas ekonomi,” kata Wahyudin.
BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada April 2026 berada di angka 128,00. Meski turun tipis dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut menunjukkan daya beli petani masih berada pada level baik karena tetap di atas 100.
Secara keseluruhan, BPS menilai perekonomian NTB pada awal 2026 menunjukkan sinyal positif dengan ditopang sektor ekspor, pertumbuhan pariwisata, serta stabilitas harga yang tetap terjaga.
“Ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi NTB ke depan, dengan catatan perlu terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan daya beli masyarakat,” tutup Wahyudin.

