Ironi Pendidikan Mataram: Sekolah Mewah vs Realitas Pesisir
Oleh : Jauhari Tantowi (Aktivis Pendidikan)
Mataram, NARASIMEDIA.NET – Di jantung Kota Mataram, gedung-gedung sekolah megah berdiri dengan fasilitas digital yang lengkap.
Namun, hanya beberapa kilometer ke arah barat, di tengah aroma garam yang menusuk indra, terbentang realitas yang berbeda.
Di bibir Pantai Bintaro, Sekolah Pesisir Juang hadir bukan sebagai bangunan beton yang kokoh, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap ketimpangan pendidikan.
Peringatan Hardiknas 2026 menjadi pengingat bahwa akses pendidikan berkualitas belum sepenuhnya merata.
Saat anak-anak di pusat kota akrab dengan gawai dan teknologi terbaru, anak-anak nelayan di Ampenan justru sempat terancam tertinggal karena keterbatasan akses.
Di tengah kondisi itu, Sekolah Pesisir Juang hadir mengisi celah yang belum mampu dijangkau sistem pendidikan formal.
Berawal dari sebuah gubuk sederhana pasca pandemi, inisiatif ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan semata soal fasilitas, melainkan soal kehadiran dan kepedulian.
Dengan semangat Tut Wuri Handayani, para relawan tidak hanya mengajarkan baca-tulis, tetapi juga menanamkan rasa percaya diri kepada anak-anak pesisir bahwa mimpi mereka tidak boleh berhenti di garis pantai.
Pencapaian sebagai finalis SATU Indonesia Awards bukan sekadar simbol penghargaan, tetapi menjadi bukti bahwa perjuangan melawan ketimpangan pendidikan di Mataram nyata adanya.
Sekolah ini menunjukkan bahwa di tengah laju modernisasi kota, masih ada “pahlawan sunyi” yang menjaga nyala pendidikan bagi mereka yang kerap terabaikan.
Momentum Hardiknas tahun ini semestinya menjadi titik tolak untuk meruntuhkan sekat ketimpangan pendidikan.
Dukungan terhadap Sekolah Pesisir Juang menjadi langkah konkret, karena pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu menjangkau hingga ke pinggiran menyentuh yang paling membutuhkan, dan memerdekakan masa depan tanpa pengecualian.

